In Bekam Personal Random

Berusaha sehat dengan bekam.. (1)

Kali ini, saya mencoba terapi bekam dan ruqyah di BRC Cibadyut Bandung. Sebenernya awalnya saya niatnya untuk ruqyah, karena saya ingin menghilangkan gangguan-gangguan jin di diri saya. Saya kurang tau sih, ada gangguan jin atau ngga, tapi lha kok malesnya udah ga ketulungan saya ini. Terus otaknya mentoooook banget.

Sebenernya saya takut loh buat ruqyah. Takut terjadi apa-apa. Ok, saya memang terlalu banyak nonton tv. Proses ruqyah atau exorcism yang ditampilkan di tv rata-rata cukup mengerikan. Karena si "setan" kemudian bangun, marah-marah, menolak untuk pergi dsb. Sebagai orang yang masih kurang informasi (atau mungkin mendapat informasi yang salah) saya sangat takut, seandainya terjadi hal-hal seperti yang ada di tv. Karena saya terus-terusan ragu, akhirnya teman saya, Nurma yang mengambil keputusan untuk saya, dan "memaksa" saya ruqyah. Hihihi.

Saya sampai ke klinik BRC sudah cukup sore. Pertama saya mendaftar dulu ke bagian kasir/resepsionis. Saya disuruh mengisi map berisi data pribadi, keluhan, riwayat penyakit. Saya mengisi kolom keluhan dengan problem menstruasi yang tidak teratur. Setelah selesai mengisi map saya disuruh menunggu untuk dipanggil oleh terapis.

Tanpa menunggu lama saya dipanggil oleh terapis yang akan memangani saya ke suatu ruangan, lalu diperiksa dengan analisis retina. Di sini retina saya difoto dan terapis lalu menerangkan apa yang retina saya "katakan" tentang kesehatan saya. Tentunya terjadi juga proses curhat di sini. Hehehe. Berdasarkan hasil analisis retina, saya mengalami masalah di rahim (ah itu ya udah pasti laaah... saya kan pcos), di kandung kemih (oke, pengakuan dosa, saya memang beberapa bulan ke belakang ini jarang sekali minum), punggung, lambung (iya mba, saya juga tau kalau lambung saya ada masalah), dan ada luka terbuka juga (nah yang ini saya baru tau). Jalan penyembuhannya? Sebenarnya yaaah, sudah saya tau sejak dulu. Mengatur pola hidup sehat. Makan teratur, minum teratur, olah raga. Saya juga diberi beberapa resep produk herbal untuk dikonsumsi. Terapis juga menjelaskan bahwa kesembuhan 50% diperoleh dari diri kita sendiri, sedangkan terapi dan obat-obatan ini hanya berpengaruh 30% saja.

Setelah selesai sesi curhat, lalu dimulai proses ruqyah plus totok oksigen. Saya sebelumnya berwudhu dulu. Lalu terapis berdiri di belakang kursi saya, membacakan do'a sambil memijit-mijit bahu. Terapis sebelumnya memberi tahu, agar saya rileks, karena kalau saya tidak rileks, totok oksigen rasanya akan seperti dicekik. Saya juga diberitahu untuk memohon kesembuhan selama proses ini.

Pada saat proses totok dimulai, leher saya terasa tercekik (plus hidung sayapun jadi tersumbat) sampai-sampai saya harus bernafas melalui mulut, tapi semakin lama cekikannya semakin longgar. Selama proses ini saya menutup mata, saya tidak tau ayat apa yang dibacakan, karena rasa-rasanya saat itu yang saya tau hanyalah, saya merasa tercekik (padahal saya sudah serileks mungkin). Selama proses ruqyah saya juga tidak merasakan hal-hal aneh. Malah terapis yang sempat terputus meruqyahnya karena terbatuk-batuk (oke, saya sama sekali tidak tahu, ini ada hubungannya apa ngga).

Setelah ruqyah, saya disarankan untuk berbekam sekalian. Soal bekam ini, sebenarnya sudah ingin saya lakukan sejak sebelum nikah. Tapi gagal terus. Hihihi. Jadi mumpung udah ada di tempatnya, saya memutuskan untuk sekalian bekam.

Saya lalu pindah ke satu ruangan khusus. Ruangan ini terdiri dari 2 ranjang yang dibatasi oleh tirai. Saya lalu diminta telungkup di salah satu ranjang. Proses bekam dimulai dengan sabat rotan. Yaitu pemukulan tubuh dengan rotan. Pelan-pelan aja sih, cuma kayak ditepuk-tepukkan. Fungsinya untuk melancarkan aliran darah. Lalu saya diminta untuk membuka baju dan menggulung pipa celana. Setelah kembali telungkup punggung saya lalu dioles dengan minyak sambil dipijat ringan.

Setelah itu kop mulai dipasang tanpa melukai kulit terlebih dahulu. Pada saat itu, terapis bilang kalau di tubuh saya banyak sekali anginnya, kop-nya berembun. Setelah beberapa saat, kop dicabut, lalu kulit mulai dilukai untuk mengeluarkan darah kotor. Sebelumnya terapis menunjukkan jarum yang akan digunakan. Steril dan masih terbungkus. Rasanya pas dilukai? perih perih aja dikit. Sepertinya pakai alat tembak, jadi ya rasanya ditembak-tembak...hehehe.

Lalu kop kembali dipasang, entah untuk berapa menit. Saya tidak memperhatikan jam. Setelah mungkin dirasa cukup, kop lalu dicopot satu persatu sambil darahnya dibersihkan. Punggung saya lalu diolesi kembali minyak zaitun. Setelahnya sayapun dipersilahkan untuk memakai kembali pakaian saya.

Setelah bekam, lalu saya diberi perawatan gurah mata. Mata saya ditetesi oleh cairan yang katanya sih terbuat dari madu dan minyak zaitun. Rasanya? puerriiihh... . Begitu ditetesi, saya disuruh mengerjap-ngerjapkan mata. Lalu kemudian ditetesi lagi dengan cairan penetralisir (saya kurang tau itu cairan apa, tapi yang pasti begitu ditetesi cairan itu, perihnya hilang). Rasanya setelah gurah mata? Mata terasa 'bersih', segar, dan silau...hihihi.

Begitu keluar dari ruangan, saya diberi cairan air+madu.

Untuk paket pengobatan tersebut saya dikenai biaya 70k. Lalu saya juga menebus semua obat herbal yang diresepkan, yang terdiri dari: Madu manjakani (55k), Sari kurma, PC, dan teh.

Setelah bekam ini, badan saya terasa segar. Saya kuat jalan cukup jauh (saya pulang ke rumah dengan berjalan kaki selama 1 jam).

Karena ini adalah kali pertama saya berbekam, saya disarankan untuk melakukan bekam ini sebanyak 2x sebulan untuk 3 bulan pertama, lalu selanjutnya cukup sebulan sekali saja.

Nah..bagaimana cerita selanjutnya soal bekam ini? Well, c u on my next post... thx for reading
!



Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...