In Bali Travelling

Bali: an endless adventure

Akhirnya saya mereview juga tentang Bali. One stop entertainment spot. You can get everything here. Wisata kuliner, spiritual, alam, kota, budaya. Mau ke gunung ada, pantai..tentu ada, danau juga ada, air terjun pun ada. Bahkan wisata yang negatif juga bisa kamu temukan di sini..hohoho.

Sejauh ini, saya baru 3x mengunjungi Bali.

Yang pertama ga perlu direview deh ya... udah lupa juga, hehe. Jaman kuliah dulu (aiih, kesannya udah lama banget ya). Sekitar tahun 2004 itu, yang dikunjungi Tanah Lot, Bedugul, Jimbaran, GWK, Kuta (walau cuma nyimpang sebentar...maklum, bareng emak-emak). Yang selanjutnya di tahun 2012 kemarin.

Waktu kedua kalinya...nginep di Wina Holiday Villa Kuta. Hotelnya enak juga. Standar internasional lah. Ke Kuta tinggal jalan 5-10 menit.

Selama trip kedua kebanyakan jalan sekitaran Kuta aja, ga jauh-jauh. Selain juga waktu itu saya ga mau jauh-jauh dari tempat yang ber-AC. Hehehe. Jadi yaaa, maennya ga jauh-jauh dari mall sekitaran kuta. Paling jauh ya ke tanah lot ama sukowati deh. Itupun modal nanya-nanya arah ke penduduk lokal, tapi akhirnya malah bingung sendiri. Hihihi. Somehow, orang Bali punya standar sendiri dalam menentukan jauh-dekat dan juga arah.

Jawaban-jawaban unik dari orang Bali:

Dekat saja... (Semua aja disebut dekat...walaupun masih 10 km juga tetep dibilang "dekat saja")
Terus saja ke selatan/timur (nyebutin arah mata angin)...  (Jawaban kalau ditanya arah. Lha masalahnya, kita juga buta arah mata angin di sana, dan ga bawa kompas juga)

kesimpulannya: lebih baik pegang gps aja deh, kalau main ke Bali.

Gara-gara ngikutin petunjuk yang kami juga ga ngerti, kami sampai ke tanah lot lumayan sore... jam 5. Udah hampir ditutup gerbangnya juga. Heuheu. Over all, saya suka Tanah Lot. Terutama toko-toko merchandisenya (loh). Tapi bener kok, when it comes to shop some souvenirs I like Tanah lot better than Sukowati.

Tapi sedikit blessing dari puter-puter cari jalan ke Tanah lot, kami "nyasar" ke warung sate kuda yang yummy! Daging kuda-nya empuuuuk. (sampai sekarang masih penasaran ama warung sate itu). And, oh yeah, it's a halal's warung. :)

Selain ke Kuta, kami juga ke Sanur. Tapi ehm, Sanur kurang bagus menurut kami. Sanur itu mirip Ancol-nya Jakarta. Pantai Rakyat. Banyak penduduk lokal yang berenang-renang di tepi pantai. Beda dengan Kuta? Ya beda banget! Kuta didominasi oleh turis asing. Pantainya juga bersiiiiiih sekali. Yang paling membuat takjub dari Kuta adalah sunset-nya. Ya memang sih, Kuta ini kan memang terkenal dengan sunset-nya..hihi.

Destinasi terakhir, pasar Sukowati. Ngapain lagi kalau bukan buat beli oleh-oleh buat handai taulan sekampung. Hehehe. Pasar ini terkenal untuk oleh-olehnya yang cukup murah meriah. Barang yang dijual rata-rata banyaknya kaos, daster, lukisan. Minusnya dari pasar Sukowati ini: bau dupa begitu menyengat, plus pedagangnya suka agak 'maksa' pembeli. Kualitas barang: sesuai ama harganya yang murah meriah :)

Ketiga kalinya saya ke Bali, kali ini sedikit lebih pintar. Sudah sedia itin (walau masih ga terlalu fix itin-nya juga..hohoho). Kali ini berhasil mengunjungi pantai Padang-padang (teracuni Eat, Pray, Love ceritanya nih), GWK (sampai 2x datang), Jimbaran (ini juga 2x datang), Gunung Batur, Tegal alang. Much better dari waktu yang kedua itu kan. Walaupun masih ada yang missed dikit sih, ga jadi ke pantai nusa dua dan bedugul (gara-gara ketinggalan tripod di jimbaran..hehe).

Ceritanya mau travelling ala ransel kali ini (walaupun tiap travelling memang selalu bawanya ransel, bukan koper). Jadi nginep di 'hotel murah' ala jl. poppies. Tapi jujur yah, kurang nyaman nginep di hotel-hotel kecil macam itu.

Landing almost midnight dan sialnya diturunin ama taksi di ujung gang yang berbeda dengan lokasi hotel. Jadi terpaksa jalan agak jauh ke dalam gang, nyari-nyari hotelnya. Sepanjang jalan, ada bule-bule yang mabok sambil lari-larian setengah bugil. Terutama begitu udah deket ke daerah Legian. Gak nyaman lah buat saya (dan 'sepotong kain' yang nyantol di kepala) ngeliat pemandangan macam itu. Sialnya, ternyata hotel lumayan deket lokasinya ama club. Jadi suara ajep-ajep 'lumayan' kedengeran ke kamar. Sebagai backpacker hotel, pelayanannya lumayan oke,lah. Di hotel sudah tersedia rental motor maupun mobil jadi ga susah nyari rental lagi, plus bisa tanya-tanya juga untuk jalur (atau mau sekalian rental pake supir juga bisa). Jadi buat yang nyari backpacker hotel, selama ga keberatan dengan bunyi ajep-ajep sih (atau mungkin malah nyari yang deket tempat ajep ajep), hotel ini bisa jadi rekomendasi.

Tapi buat saya sendiri, saya lebih suka hotel yang aman, nyaman, tenteram, lebih mahal dikit ga masalah lah. :)

Hari pertama, ceritanya mau ke pantai Padang-padang. Tapi ternyata di tengah jalan melewati GWK, akhirnya nyimpang dulu deh ke GWK. Ini GWK aneh banget ya, dari tahun 2004 rasanya ga ada kemajuan pembangunannya (ups...yaa...ya...saya juga tau, ga mudah kok, bikin patung sebesar itu). Tiket GWK seharga 30k. A bit pricey, heh? untungnya boleh 2x masuk. Heuheu.Pertama masuk jam 12-an, liat tari dan foto-foto sama patung yang masih setengah jadi, plus bengong di bale bengong.

Sekitar jam setengah 2-an cabut meneruskan perjalanan yang tertunda, ke pantai padang-padang. Pantai ini amazing banget deh. Dia tersembunyi dibalik gunung. Sayangnya, due to the popularity of Eat,pray,love's movie, pantai ini rameeee banget dengan 90% turis asing. Udah ampir kayak stasiun aja deh. Tinggal ditambah ama pedagang asongan.

Sekitar jam 4, kami balik lagi ke GWK (dengan sebelumnya sempet nyasar juga ke pantai lain, tapi saya lupa namanya) untuk nonton tari Kecak kolaborasi dengan sendratari.

Jam 6, kami cabut ke Jimbaran buat dinner. Lagi-lagi mayoritas konsumen di Jimbaran itu orang asing. Sesampai di hotel, dengan bodohnya saya baru sadar kalau tripod ketinggalan di Jimbaran...heuheu.

Hari kedua, walau masih sedikit bete dengan tripod yang tertinggal, tetap berangkat juga ke Gunung batur. Ngapain juga yah, ke Gunung Batur...ke gunung nu sorangan weh harusnya mah..hehe (red: batur dalam bahasa sunda artinya orang lain, jadi gunung batur: gunung punya orang lain).

Perjalanan dari hotel ke Gunung Batur ternyata jauh bukan main. Hampir 3 jam menggunakan motor. Melewati Ubud, Tegal alang, jalan yang berkelok-kelok dan naik turun. sesampainya di Danau Batur, ternyata lagi ada festival. Jadi yah liat-liat aja sebentar. Saya tidak menyebrang ke Trunyan, tiketnya mahal sih, plus kalau saya sih males aja yaaa, liat tengkorak-tengkorak manusia.

Selesai dari Danau Batur (yang cuma sebentar juga di situnya, btw,) balik lagi ke Jimbaran untuk mengambil tripod dan sekalian dinner lagi. Dengan sebelumnya transit di Tegal alang untuk ngemil dan kepala saya yang menoleh kanan kiri sepanjang toko barang seni di Ubud.

Sampai ke Jimbaran masih 'siang'. Jadi sempat melihat sunset. Oh iya, thank God, tripod saya masih ada, dan disimpankan oleh kasir. Selesai dinner, sempat ikut nongkrong ala penduduk lokal Bali juga di patung kuda (maaf, ga tau nama patungnya). Lalu belanja oleh-oleh di Krisna Bali. Berhubung keesokan harinya harus udah flight pagi-pagi, ya sampai di situ aja perjalanan saya di Bali kali ini.

Sebenarnya masih sangat banyak daerah wisata di Bali. So, will I come back again someday? I think I will ;)

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...