In

[Personal] Wisuda itu mahal, jendral!

Sidang udah... selanjutnya...wisuda. Satu hal yang saya inginkan dari wisuda adalah... berfoto. Hahaha. Sebelum wisuda, proses pengurusan sidang dan lain lain sangat menguras..segalanya. Menguras biaya, tenaga, waktu, dan terutama pikiran. Selama penyusunan tesis aja saya habis sampai 3 rim kertas..itu baru kertasnya aja. Belum tinta dan lain lainnya. Selepas sidang lalu apa itu semua selesai? Ooh tentu beluuum. Masih ada satu kegiatan puncak yang (lagi-lagi) akan menguras biaya: wisuda!

Wisuda itu mahal loh...terutama kalau kamu perempuan, dan kamu belum pernah wisuda sebelumnya. Maksud saya di sini, kalau kamu belum pernah wisuda artinya kemungkinan besar kamu ga punya kebaya, selop, plus baik kamu maupun orang tua pengen momen wisuda ini sebagai suatu momen istimewa *yes anak gue lulus...begitu mungkin kata orang tuamu*. Ayo kita hitung secara kasar biaya wisuda!

Tetek bengek wisuda

  • Pakaian
    • Jilbab/hiasan rambut  Rp.    50.000
    • Kebaya                       Rp.   250.000
    • Selop                          Rp.   150.000
  • Wajah
    • Make up                     Rp.   150.000
  • Keluarga
    • Penginapan                 Rp.   250.000
    • Kendaraan                  Rp.   250.000      
    • Foto keluarga             Rp.   150.000         
  • Syukuran                              Rp.   350.000
                           Total                     Rp.1.600.000

Ituuuu... itungan minimal biaya dengan catatan kamu dari luar kota sehingga membutuhkan penginapan yah. Biaya make up juga udah saya masukkan yang paling murah. Mahal yah...untuk kegiatan yang cuma berlangsung selama 2 jam. 

Biaya-biaya di atas tentunya bersifat fleksibel, artinya..bisa lebih murah ataupun bisa lebih mahal.

Oke, sekarang mari masuk ke bagian yang lebih personal... my own graduation ceremony actual cost. Hehehe.

1. Bayar wisuda Rp. 400.000
2. Kebaya           Rp. 500.000
3. Kerudung       Rp. 100.000

That's it! Oke...sama bensin kali ya... plus sewa sopir. Hehe.

Mari kita rinci satu persatu.
1. Bayar wisuda.
Untuk anak s1 di kampusku, biaya wisuda udah gratis, sayangnya belum gratis untuk pascasarjana. Kebetulan saya bayar langsung ke bank, jadi kena Rp.400.000. setau saya, kalau bayar lewat kampus malah jadi Rp.500.000.

2. Kebaya.
Untuk yang satu ini, saya ga mau nyewa. Makanya jadi beli bahan terus jahit sendiri. Kebetulan karena pengen wisuda kali ini lebih istimewa, beli bahan kebayanya juga yang agak mahal sedikit. Sedikit..iya, sedikiiiit aja.

3. Kerudung
Yang ini dasar saya keganjenan, ga nemu kerudung yang dimau, akhirnya jadi beli bahan.

Seperti yang dilihat, ga ada biaya make up. Kenapa? karena saya dandan sendiri! Awalnya saya pengen pake jasa MUA, sayangnya ternyata MUA nya full booked untuk hari itu. Ya udah deh, berbekal perlengkapan make up yang dipunya plus tutorial dari youtube, saya dandan sendiri. Pas latihan sih udah oke, eeeh, pas hari H malah agak belepotan..huwahahaha. Tapi ya yang sudah berlalu biarlah berlalu ya.

Alhamdulillah semua sudah berlalu..



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In kyoto inferno rurouni kenshin

[Personal] 久しぶりの友達と

今日は久しぶりの友達と一緒にるろうに剣心を見ました。ちょっと変だと思いましたよ。みんな変わりました。もう大人になりました。化粧して、口紅をつけて、メークをつけて、まあああ…みんな美人になって、自分だけ変わらないと思います。

映画について、るろうに剣心は👍と思いました。アクションがいい。

次はインドネシア語で書いています。

Yaps... bagian ini mau saya tulis dalam bahasa Indonesia. Kenapa? Karena saya males nyusun kalimat-kalimatnya dalam bahasa Jepang. Hehehe.

Oke, skip bagian ngalor ngidulnya. What I want to write in Bahasa is about the movie. A mini review if you may say.

Pertama, Rurouni kenshin kyoto inferno (selanjutnya saya singkat KI ya, biar ga kelamaan ngetik) ini menurut saya film wajib tonton banget. Apa kamu pecinta action, pecinta samurai X, pecinta Jepang, kamu wajib nonton. Action di KI ini menurut saya sangat bagus, keren, walau kadang pengambilan gambar ada yang bikin agak pusing. Hal ini dikarenakan ceritanya kan Kenshin itu kelebihannya di kecepatannya. Oh iya, di KI ini, sangat terasa betapa hebatnya Kenshin (yang dalam anime maupun manganya tentunya ga bisa kita lihat langsung).

Kedua, ini yang paling saya suka dari cerita Jepang, dalam film Jepang tidak ada tokoh yang terlahir jahat. Bad people are made, not born. Dalam film Jepang selalu diceritakan latar belakang kenapa seorang tokoh menjadi seperti ia sekarang. Dan sejujurnya, karena film-film Jepang yang memiliki kekhasan seperti itu, saya menjadi pribadi yang less judging. We don't know what that person have been going through, so don't judge. Nah, di KI ini saya baru tau sedikit latar belakang hidup Shishio. Shishio yang dikhianati, ditusuk ramai-ramai lalu dibakar hidup-hidup, saya bisa paham dendam yang dia punya.

Ketiga, if you really paid attention, setiap film punya setting budaya. Ada informasi budaya yang bisa didapat dari menonton sebuah film. Begitu pula film ini. Untuk yang bukan pecinta Jejepangan mungkin tidak tahu, tapi Kyoto memang terkenal dengan geishanya. Di KI ini, saat setting tempat di Kyoto, kita dapat melihat geisha berkeliaran (aduh...kok berkeliaran amat ya bahasanya).

Kekurangan dari film ini menurut saya sih ada di cast nya... pertama...kenshin terlalu cakep...hahahaha. Kenshin itu kan samurai tua kurus kecil codet pula... kok malah jadi imut (Takeru siiih... ( ・∀・) イイネ!). Shishio kurang kurus... heuheu. Sojiro masih kurang imut sih, tapi cukup lah. Oom shinsengumi cool kurang ganteng...hahaha... Yumi kurang sekseh booo... Sanosuke kurang tinggi...tapi cukup bodohnya sih (aiiih..banyak maunya banget ya...).

Oh iya, kelemahan lain terdapat pada teks terjemahan. Ya ampuuuun... apa pula itu pedang tulen, jagabaya, mengendus, sadly to say...kok kayak terjemahan dvd kualitas glodok ya. 😓 ketika teriaknya "niichan..." yang artinya kakak, kok terjemahannya jadi "eichii" lha piye mas mba translator??? Terus ketika para penduduk berteriak "jangan dipotong" ada terjemahan bahasa inggris "don't cut" kenapa di teks bahasa Indonesia jadi "jangan bunuh" terus kenapa shinshengumi dan bakufu terjemahannya jadi aneh gitu yah..heuheu.

Untuk saat ini, baru segitu review yang bisa saya tulis ya. Terlepas dari segala kekurangannya, film ini so worthed to watch!

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

[Personal] その夢…

Postingan kali ini berjudul "Sono yume..." yang dalam bahasa Indonesia berarti "Mimpi itu.." atau bisa juga diterjemahkan sebagai "Impian itu...". Saya mungkin termasuk orang yang jarang bermimpi...hmm, atau justru terlalu bermimpi sehingga impian itu betul-betul menjadi sebuah mimpi saja? Entahlah.

Impian yang saya maksud di sini adalah impian yang termasuk kategori cita-cita. Untuk hal yang satu ini saya memang jarang memimpikannya. Menurut ibu saya, sejak kecil saya memang tidak pernah mengatakan cita-cita saya apa. Saya masih ingat, sebetulnya saya seperti tokoh Totto chan di Madogawa no Totto chan, yang ingin menjadi kondektur karena kondektur bisa punya banyak tiket. Kemudian ketika

Ketika kecil, papa melihat telapak kaki saya berlekuk, dan berkata bahwa yang telapak kakinya berlekuk itu kuat jalan jauh (dan memang terbukti sih..hehe) sehingga pantas menjadi tentara. Lalu saya bercita-cita menjadi ABRI. Di waktu yang lain, mama berkata bahwa saya lincah, photogenic, jago bergaya dan berlenggak lenggok, sehingga bisa menjadi pragawati atau model. Lalu sayapun bercita-cita menjadi model. Sayangnya semua mimpi itu kandas ketika tinggi saya mentok di 152 cm. Hahahaha.

Kemudian, thanks to anime Magic Girls, kisah tentang sepasang anak kembar yang bisa berpindah tempat dengan mengaitkan kelingking mereka, saya ingin menjadi ilmuan. Gambaran tentang melakukan percobaan di lab memenuhi pikiran saya. Hal itu terpenuhi setidaknya sampai saya bersekolah di SMF. Sayangnya impian itu mati dengan sendirinya ketika saya masuk kuliah jurusan Sastra. Hahahaha.

Saya tidak tau pastinya kenapa, tapi orang tua saya tidak dengan spesifik mengarahkan saya kepada suatu cita-cita sejak saya kecil. Orang tua saya membiarkan saya berkembang secara alami. Dengan bakat saya sendiri (walau saya sendiri di usia seperti ini terkadang bingung dengan bakat saya sendiri..hehehe) dan kecerdasan saya sendiri. Bisa dikatakan, orang tua saya termasuk orang tua yang demokratis. Membiarkan anaknya bertumbuh kembang tanpa diembel-embeli ambisi pribadi orang tuanya dan mensupport keinginan anak semampu orang tua. Satu-satunya hal yang "dipaksakan" oleh mama kepada saya adalah masuk SMF.

My life has been a series of unpredictable events (bukan lemony snicket loh ya..). And I'm enjoying it. Saya tidak mengatakan bahwa hal ini adalah hal yang baik, tidak. Memang yang terbaik adalah ketika semua sudah terprogram. Impian yang terprogram mempermudah kita untuk meraihnya. Mari kita ambil contoh teman saya. Dia masuk jurusan sastra Jepang karena memang sudah berniat sejak SMA nya. Sehingga di semester 1 dia sudah meraih IPK yang tinggi, sehingga memudahkan jalannya untuk meraih beasiswa. Akhirnya diapun dengan mudah wara-wiri ke Jepang gratis dengan bantuan beasiswa. Lalu saya? Secara tidak terduga, saya yang lulusan sekolah menengah farmasi justru diterima kuliah di jurusan sastra. Bayangkan betapa bingungnya saya dengan mata kuliah sosiologi, sejarah, dan sebagainya yang sama sekali tidak mengenal rumus dan hitungan. Tapi tokh dengan perhitungan, saya berhasil lulus tepat waktu...4 tahun. Dengan ipk yang tidak memalukan pula.

Lalu...kembali pada tema tulisan kali ini...apakah saya sudah betul-betul menemukan impian saya?Hmm...setelah lulus s2 seperti inipun...sepertinya saya belum menemukan suatu hal yang sungguh-sungguh ingin saya raih. Terdengar agak menyedihkan ya... Saya bukannya menyalahkan stereotype orang Indonesia yang nrimo. Tapi...saya kok merasa memang kebanyakan seperti itu.

Ketika kita punya sebuah keinginan, kemudian ternyata keinginan tersebut karena satu dan lain hal tidak dapat terlaksana, kita berlindung di balik takdir Tuhan dengan berkata bahwa bukan rejekinya lah dsb. Hal inilah yang kemudian membuat orang Indonesia dicap pemalas oleh beberapa bangsa lain. Kurang daya juangnya. Hal ini menjadi terasa mengenaskan menurut saya. Bukankah justru dengan memiliki Tuhan seharusnya kita lebih percaya diri untuk bermimpi dengan tinggi? Karena tidak ada yang tidak bisa Tuhan lakukan. Namun kenapa yang sering terjadi justru sebaliknya. Bersembunyi di balik takdir Tuhan atas kurangnya usaha kita.

Saya mungkin sedikit terlambat menyadari hal tersebut. Namun saya rasa, selama kita masih diberi nafas oleh Tuhan, tidak ada kata terlambat. じゃ、今から考えています。

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...