In Japan social culture

Otaku... apaan tuh?

Pengertian

Secara etimologis, terminologi otaku berasal dari kanji 「お宅」, yang berarti panggilan hormat untuk rumah orang lain dan juga merupakan panggilan hormat untuk orang kedua atau ”Anda”. Kalau digunakan kepada lawan bicara, kata otaku terkesan tidak akrab, tidak sopan tetapi tidak kasar dan menunjukkan jarak yang tidak dekat.

Istilah otaku pertama kali diperkenalkan oleh kolumnis Nakamori Akio dalam artikel Otaku no Kenkyuu, (オタクの研究)yang dimuat majalah Manga Burikko. Dalam artikel yang dimuat bersambung dari bulan Juni hingga Desember 1983 ini istilah otaku digunakan untuk menyebut penggemar berat subkultur seperti anime, komik, game, komputer, dan sejenisnya. Pada perkembangan selanjutnya, istilah otaku ditulis dengan 「オタク」 atau 「ヲタく」 untuk membedakan istilah slang dengan kata ganti orang kedua dalam bahasa Jepang baku.

Latar Belakang Kemunculan Otaku

Pada tahun 60-an, Jepang mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Perkembangan ini juga meliputi perkembangan produk media massa, diantaranya anime. Anime (アニメ)adalah sebutan yang diberikan oleh beberapa negara untuk menunjukkan suatu karya sebagai animasi Jepang. Tetapi di Jepang sendiri seluruh karya animasi baik yang berasal dari Jepang maupun luar negeri akan disebut sebagai anime. Kemudian, penggemar fanatik anime pun bermunculan.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya kata otaku pada awalnya merupakan panggilan hormat untuk rumah orang lain dan juga merupakan panggilan hormat untuk orang kedua atau ”Anda”. Kemudian, dalam pertemuan para penggemar anime dan kolektor gambar anime, mereka saling memanggil dengan panggilan ’otaku’. Sejak saat itu kata ’otaku’ digunakan menyebut penggemar berat anime, komik, game, komputer, dan sejenisnya. Seperti yang ditulis Okada Toshio dalam artikel Shin Otaku Yougo(新オタク用語)atau Asal Mula Kata Otaku Baru9:

「オタク」という言葉は、もともとSFファン同士がイベントで集まる場などで使われる二人称として発生した。… この言い回しは、SFファンの間で爆発的に流行し、1982年のTVアニメ『超時空要塞マクロス』で、登場人物達が使うことによって、アニメファンにも一気に広まった。

‘Kata ‘otaku’ awalnya muncul di tempat perkumpulan atau event para penggemar SF (science fiction) yang digunakan sebagai persona orang kedua. … Perkataan yang diulang-ulang itu popular dengan hebat sekali di kalangan penggemar SF, lalu digunakan oleh para pemeran di anime “Choujikuuyousai Makurosu” tahun 1982, kemudian meluas juga ke kalangan penggemar anime.’

Sekarang di Jepang, istilah otaku sering digunakan di luar konteks penggemar berat anime atau manga untuk menggantikan istilah ‘mania’, sehingga ada istilah game-otaku, gundam-otaku (otaku mengenai robot gundam), gunji-otaku (otaku bidang militer), pasokon-otaku (otaku komputer), tetsudou-otaku (otaku kereta api), dan lain-lain.

Karakteristik dan Stereotip Otaku

Okada Toshio, seorang produser anime, telah menulis beberapa buku yang berkaitan dengan kebudayaan anime di antaranya Otakugaku Nyuumon(オタク学入門) atau Pengantar Ilmu Otaku, dan Otaku no Mayoi Michi (オタクの迷い道)atau Labirin Otaku. Karena ahli dalam ilmu otaku, teman-temannya dan para otaku di Jepang menjulukinya OtaKing (raja otaku). Dalam artikel Interview with Otaking10, Okada membuat karakteristik otaku sebagai berikut:
A man who is deep in something to tell no one about in his spiritual world.
A man who is addicted to animation and comic books though he is too old to do.
A man who is able to speak of the definition at least for 3 hours.

Otaku is people who have these characteristics. They are absorbed in not only particular category (Animation, comics, toy, and so on) but also minor at the social level. 2nd definition is important to explain them because most Japanese love these entertainment very much in their childhood. 3rd definition means they have had a pride at knowledge and contemplate their being otaku for a long time. So the longer their career of otaku is, the more they talk.
‘Orang yang menyelami sesuatu secara mendalam, dan tidak memberitahu siapapun tentang dunia spiritualnya.
Orang yang kecanduan terhadap animasi dan buku komik walaupun dia terlalu tua untuk melakukannya.
Orang yang mampu berbicara mengenai definisi (dari kegemarannya) paling sedikit selama 3 jam.’

’Otaku adalah orang yang memiliki karakteristik ini. Mereka diserap tidak hanya ke dalam kategori khusus (animasi, komik, mainan, dan sebagainya) tapi juga bagian kecil dalam tingkatan sosial. Karakteristik kedua penting untuk menjelaskan mereka karena orang Jepang menyukai hiburan-hiburan ketika mereka masih anak-anak. Karakteristik ketiga berarti mereka memiliki kebanggaan akan pengetahuan dan renungan otaku mereka dalam jangka waktu yang lama. Jadi semakin mereka berbicara banyak, semakin panjang karir otaku.’

Otaku tidak hanya terobsesi oleh anime, manga, dan game saja. Sebagaimana yang Okada jelaskan dalam artikel Shin Otaku Yougo (Asal Mula Kata Otaku Baru), ia membagi ruang lingkup kegemaran otaku, sebagai berikut:

オタク文化は、大きく分けて3つのメディアを中心に成り立っている。

一つ目は「Visual」。アニメやSF映画、特撮といった映像メディアである。

2つめは「Publishing」。マンガ、SF小説、ファンタジー小説等のジャンルを中心とした出版メディアである。広い目で見れば、コミケなどの同人誌即売会もこの範囲に含まれる。

3つめは「Digital」。アーケードゲーム、家庭用コンピュータゲーム、パソコン通信、インターネット及び、パソコンそのものの環境も含めたデジタル・メディアである。

以上「Visual」「Publishing」「Digital」という3つのメディアが中心ではあるが、その周辺にはガレージキット、コスプレ、アニソン(アニメの主題歌)カラオケなど、幅広いメディアが存在している。

…  オタク的な態度というのはこれらジャンルの壁を越えて、常に広く深く観察研究しようとする態度であり、そのような人こそ、「現代的なオタク」と呼ばれるべき人々である。

’Budaya otaku, berpusat menjadi 3 bagian media.

Pertama adalah ”Visual”. Terdapat media gambar tokusatsu, gambar SF dan anime.

Kedua adalah ”Publishing”. Terdapat pada media penerbitan seperti novel fantasi dengan bergagai gender, novel SF, dan manga. Bila dilihat lebih luas, termasuk ruang lingkup penjualanan doujinshi di komike.

Ketiga adalah ”Digital”. Game komputer, game komputer untuk keperluan rumah tangga, browsing internet, pasocon termasuk kedalam lingkungan digital media.

Selain ketiga media “Visual” “Publishing” “Digital”, di sekelilingnya ada garage kit, cosplay, karoke anisong (lagu tema anime) dan lainnya, begitu luasnnya media yang ada.

Yang disebut tingkah laku secara otaku, membatasi tembok gender-gender seperti ini, biasanya bertingkah seperti meneliti dan meninjau lebih dalam dan luas, orang yang seperti itulah, orang-orang yang seharusnya dipanggil “otaku zaman sekarang”.’

Seperti yang dijelaskan Okada di atas, ruang lingkup kegemaran otaku tidak terbatas pada media ‘visual’ seperti anime, science fiction, tokusatsu(特撮), media ‘publishing’ seperti komik, novel scince fiction, doujinshi(同人誌), dan media ‘digital’ seperti game komputer, internet, personal komputer saja. Tapi, juga meliputi cosplay (costum player), anison (lagu tema anime), karoke, serta media lainnya.

Sedangkan Tsuzuki Kyoichi11, seorang mantan jurnalis majalah Popeye dan sekarang seorang editor seni, menjelaskan stereotip seorang otaku sebagai berikut:

”In the beginning otaku was used in a very a negative sense and meant someone who doesn’t look good, who has no girl friend, who is collecting silly things, and is generally out of the world. As I definition I would say that an otaku is a person who is into something useless. …

“They are easily visible, because they don’t care about the way they dress. They talk different, and look to the ground while talking face-to-face. They are not into physical activities, they are chubby or thin, but not fit. Never tanned. They don’t care for a good meal, they think they can spend their money on more important things.

“Mulanya otaku digunakan dalam pengertian negatif dan berarti seseorang yang tidak terlihat bagus, tidak memiliki kekasih, mengoleksi barang-barang lucu, dan biasanya ada di luar dunia. Seperti yang saya definisikan, saya akan mengatakan bahwa otaku adalah orang yang menjadi sesuatu yang tidak berguna. …’

“Mereka mudah dikenali, karena mereka tidak memperhatikan cara mereka berpakaian. Mereka berbicara berbeda, dan melihat ke bawah ketika berbicara langsung. Mereka tidak melakukan aktifitas fisik, mereka gemuk atau kurus, tapi tidak pas. Tidak pernah menyamak. Mereka tidak peduli untuk makanan sehat, mereka memikirkan mereka dapat menhabiskan uang mereka untuk barang-barang penting.’

Ron Adams dalam makalahnya yang berjudul Hikikomori/Otaku Japans Latest Out-Group, menambahkan:

Most otaku never actually meet each other, but instead communicate trough the internet.

The otaku spend their time obsessively memorizing and analyzing useless facts. If they love computers, yhen they will read everything and anything about computers they can find, from how to install a strange operating system-to designing their own robot.

‘Kebanyakan otaku tidak pernah bertemu satu sama lain, tapi malahan berkomunikasi melalui internet.’

‘Otaku menghabiskan waktunya untuk mengingat dan menganalisis fakta-fakta yang tidak berguna. Jika mereka mencintai komputer, mereka akan membaca apapun tentang komputer yang dapat mereka temui, dari bagaimana menginstal program komputer aneh sampai mendesain robot sendiri.’

Secara garis besar stereotip otaku adalah orang yang sangat terobsesi dengan anime, manga, game komputer, dan lain-lain. Waktunya dihabiskan untuk mengoleksi berbagai barang dan menganalisa hal-hal yang berhubungan dengan obsesi mereka. Karena itu, banyak di antara mereka tidak memperhatikan penampilan mereka ataupun makanan yang mereka makan. Kebanyakan otaku tidak pernah bertemu dengan yang lain secara langsung, mereka berkomunikasi lewat internet, karena merasa aman melakukan komunikasi di depan layar komputer daripada bertemu langsung.

Rorikon
Di dunia anime, manga, dan game tidak jarang menampilkan tokoh utama seorang gadis cantik atau pahlawan wanita imut dalam ceritanya. Otaku yang menyukainya dijuluki rorikon-otaku. Rorikon adalah satu bagian dari otaku. Rorikon (ロリコン)atau lolicon atau lolita complex memiliki makna seseorang yang mempunyai obsesi kepada anak-anak di bawah umur, menjelang atau sebelum masa pubertas. Kata ’lolita’ merupakan sebuah judul novel karya Vladimir Nabokov, yang menceritakan seorang profesor yang memiliki kecenderungan menyukai gadis di bawah umur. Makna asli rorikon tidak diragukan lagi bermakna sama dengan pedofilia. Namun penggunaannya sebagai istilah serapan oleh komunitas otaku mengalami pergeseran makna menjadi seseorang yang berperilaku obsesif pada objek visual yang imut dan manis. Biasanya objek yang bersangkutan bertubuh kecil atau seperti anak-anak.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Japan social culture

Hikkikomori

Pengertian

Hikikomori merupakan sebuah fenomena masyarakat yang sedang menjadi masalah di Jepang. Secara etimologi, termonologi asal kata hikikomori 「ひきこもり」terdiri dari kata hiki dan komori. Hiki/hiku 「引く」berarti menarik, sedangkan komori/komoru 「籠る」berarti menutup diri atau mengurung diri. Secara singkat hikikomori dapat didefinisikan sebagai ”seseorang yang menutup diri dan mengurung diri dari lingkungan sekitarnya”.

Ilma Sawindra dalam jurnal Gejala Hikikomori pada Masyarakat Jepang Dewasa Ini (2006: 3) menulis bahwa istilah hikikomori dikemukakan pertama kali oleh seorang psikolog dari Jepang yang bernama Saito Tamaki, seorang ahli hikikomori dan telah menulis banyak buku tentang hikikomori, mendefinisikan sebagai berikut:

6ヶ月以上自宅にこもりがちで、仕事や学校などの社会参加をしてなく、家族以外の親密な対人関係がない状態。

’Keadaan lebih dari enam bulan mengurung di rumahnya sendiri, tidak berpartisipasi dalam masyarakat seperti pekerjaan dan sekolah, tidak ada hubungan akrab dengan orang lain selain keluarga’

Lebih lanjut Saito menjelaskan sebagai berikut:

「ひきこもり」は病名‐診断名ではなく、状態を示すことばにすぎません。この状態が長期化する中で、いろいろな精神的症状が出てくると、医療とのかかわりが生じてきます。逆に、もともと統合失調症やうつ病などがあり、その症状としてひきこもりが起こってくる場合もあります。

’Hikikomori’ bukanlah nama penyakit atau nama diagnosa, tetapi tidak lebih dari kata yang mengungkapkan keadaan. Selama keadaan ini berlanjut lama dan bila muncul bermacam-macam gejala psikis/kejiwaan, maka akan ada hubungan dengan penyembuhan. Sebaliknya, ada juga hikikomori terjadi sebagai gejala dari mental disorder dan depresi yang sudah ada sebelumnya.’

Dari kutipan di atas dapat kita simpulkan secara sederhana bahwa hikikomori adalah suatu kondisi atau keadaan dimana seseorang menutup dirinya dari dunia luar dengan tidak berkomunikasi dengan orang lain dan mengurung dirinya di kamar atau di rumahnya selama lebih dari enam bulan atau bahkan bertahun-tahun. Hikikomori bukanlah penyakit mental, tapi bila keadaan ini terus berlanjut akan muncul gejala-gejala kejiwaan, maka perlu disembuhkan.

Pola Hidup Hikikomori

Pola hidup pelaku hikikomori berbeda dari orang kebanyakan karena mereka hidup dari kebalikan pola hidup orang biasanya. Maggi Jones dalam artikel Shutting Themselves In2 menulis:

While the stereotype of a hikikomori is a man who never leaves his room, many shut-ins do venture out once a day or once a week to a konbini, as a 24-hour convenience store is known in Japan. … And for hikikomori, who tend to live on a reversed clock, waking around noon and going to sleep in the early-morning hours, …

‘Sedangkan, ciri khas seorang hikikomori adalah seorang pria yang tidak pernah meninggalkan kamarnya, beberapa dari mereka melakukan perjalanan keluar sekali dalam sehari atau sekali dalam seminggu ke sebuah konbini, sebuah convenience store 24 jam yang terkenal di Jepang. … Dan untuk hikikomori, yang hidup dalam jam kebalikan, bangun ketika sore dan tidur di pagi hari, …’

Hal serupa dipaparkan oleh Ryu Murakami dalam essaynya yang berjudul Japan‘s Lost Generation: In a world filled with virtual reality, the country’s youth can’t deal with the real thing3. Murakami menulis:

Socially withdrawn kids typically lock themselves in their bedrooms and refuse to have any contact with the outside world. They live in reverse: they sleep all day, wake up in the evening and stay up all night watching television or playing video games. Some own computers or mobile phones, but most have few or no friends.

‘Ciri khas anak-anak yang menarik dirinya dari kehidupan sosial adalah mengunci diri mereka di kamar tidurnya dan menolak untuk melakukan kontak dengan dunia luar. Mereka hidup dalam kebalikan: tidur sepanjang hari, bangun di malam hari dan menghabiskan seluruh malamnya dengan menonton televisi atau bermain game. Beberapa mempunyai komputer atau mobile phone, tetapi kebanyakan memiliki sedikit teman atau tidak sama sekali.’

Pola hidup seorang hikikomori berkebalikan dari pola hidup orang normal. Di saat orang normal beraktivitas di siang hari, pelaku hikikomori justru tidur dan bangun pada malam hari. Kegiatan yang mereka lakukan adalah menonton TV, bermain game komputer, surfing internet, membaca buku, atau hanya sekedar bengong di kamarnya. Mereka tidak pernah bergaul dan berkomunikasi dengan orang lain, karena itu mereka tidak memiliki teman. Mereka jarang sekali keluar, mereka hanya akan keluar pada malam hari yang sepi untuk membeli keperluan sehari-harinya atau hanya sekedar untuk jalan-jalan.

Ada beberapa alasan mengapa pelaku hikikomori hidup dalam kebalikan siang-malam, seperti yang dijelaskan pada homepage yang dibuat NHK di rubrik tanya-jawab seputar masalah hikikomori4 berikut ini:

こうした逆転が起きるにはさまざまな理由があります。ひとつは、昼間太陽光線に当たらないため、体内時計が狂ってしまい、日内リズムがずれてしまうというもの。もうひとつは心理的な理由です。昼間みんなが学校や職場に通ったりして、活発に活動している時間帯に、何もしないでひきこもっていると、世間にどんどん取り残されていってしまうような不安感や焦燥感、劣等感にさいなまれるものです。昼夜逆転は、こうした苦痛を避け、周囲を意識しないための工夫であるとも言えるでしょう。

‘Ada macam-macam alasan mereka bangun berbalik seperti itu. Salah satunya, agar mereka tidak terkena sinar matahari siang, mereka telah menggeser irama sehari-harinya, dan telah mengacaukan jam dalam badannya. Satu lagi alasan secara mental. Siang hari semua pulang-pergi ke sekolah dan tempat kerja, beraktivitas pada jam kerja, ketika mengurung dirinya dengan tidak melakukan apa-apa, merasa gelisah dan tegang seperti telah ditinggalkan dengan cepat di dunia ramai, dan disiksa oleh rasa kurang harga diri. Berbaliknya siang-malam itu, bisa dikatakan sebagai usaha untuk tidak menyadarkan sekeliling dan menghindari penderitaan seperti itu.’

Para pelaku hikikomori memilih gaya hidup seperti itu sebagai usaha untuk menghindari perasaan-perasaan gelisah, tegang, dan rendah diri ketika berada di tempat ramai.

Penyebab Hikikomori

Siapa pun bisa menjadi pelaku hikikomori. Kebanyakan pelaku hikikomori di Jepang adalah laki-laki berusia 19-25 tahun, tidak menutup kemungkinan perempuan dapat juga menjadi pelaku hikikomori. Faktor penyebab hikikomori biasanya berasal dari luar, antara lain:
Ekonomi dan Budaya Jepang

Ekonomi Jepang, budaya Jepang, dan peranan jenis kelamin di Jepang adalah salah satu penyebab kuat terjadinya hikikomori. Laki-laki di Jepang dituntut untuk menjadi orang yang sukses. Sebagaimana yang ditulis Micheal Dziesinski dalam makalah penelitiannya yang berjudul Hikikomori: Investigations into the phenomenon of acute social withdrawal in contemporary Japan5:

Foremost are the cultural expetations placed upon a young middleclass person to conform to norms and succeed in life, …

‘Pertama adalah anggapan budaya yang menempatkan seorang remaja kelas menengah untuk menyesuaikan diri dengan norma dan kesuksesan dalam hidup, …’
Sistem Pendidikan Jepang

Jepang sebagai negara maju memiliki sistem pendidikan yang penuh dengan persaingan. Mulai sejak Sekolah Dasar hingga masuk Perguruan Tinggi seorang siswa harus memiliki jiwa dan kemampuan intelektual yang tahan dalam persaingan. Para ibu di Jepang sadar bahwa Jepang merupakan gakureki shakai(学歴社会)yaitu riwayat pendidikan seseorang sangat berpengaruh untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Maka muncul istilah kyouiku mama(教育ママ), dimana para ibu begitu menaruh harapan dalam pendidikan anak-anak mereka. (Ilma Sawindra Janti, 2006: 1). Harapan-harapan ini bisa menjadi tekanan bagi anak-anak.
Kekerasan di Sekolah

Kekerasan di sekolah seperti ijime dapat pula menjadi penyebab seseorang menjadi hikikomori. Ijime(いじめ)adalah memperdaya, menganiaya, melecehkan anak yang dianggap memiliki kelainan dari kawan-kawannya. Bila sudah amat tertekan, tidak jarang anak yang mendapat perlakuan ijime menjadi mogok sekolah atau toukoukyohi(登校拒否). Dr. Kawanishi sebagaimana yang dikutip Michael Dziesinski, mengatakan:

”… extremely nasty and dark, the way kids are bullied is both physical and psychological. Many victims just stop going to school, and eventually completely withdraw from society.”

“… sungguh keji dan suram, anak-anak yang diganggu secara fisik dan psikologikal. Beberapa korban mulai berhenti pergi ke sekolah, dan akhirnya menarik diri dari kehidupan sosial”
Peranan Keluarga

Lebra dalam bukunya Japanses Pattern of Behavior menjelaskan bahwa dalam tradisi masyarakat Jepang, ada konsep saling ketergantungan. Tipe ketergantungan ini sering terjadi sebagai hubungan quasi-familial (sok menurut pada keluarga), dimana pasangan ketergantungan menerima peran seorang anak terhadap pasangan pendukung yang berperan sebagai orangtua. Seorang anak dapat mengharapkan keamanan dan perlingdungan dari orangtuanya. (1976: 51)

Saito Tamaki sebagaimana yang dikutip oleh Phil Rees dalam artikelnya yang berjudul Japan: The Missing Million6 menulis:

More recently, Dr Saito points to the relationship between mothers and their sons. “In Japan, mothers and sons often have a symbiotic, co-dependent relationship. Mothers will care for their sons until they become 30 or 40 years old.”

’Baru-baru ini, Dr Saito menitik beratkan pada hubungan antara ibu dan anak mereka. ”Di Jepang, ibu dan anak lelakinya sering mempunyai sebuah simbiotik, hubungan saling ketergantungan. Ibu akan mengurus anak-anaknya sampai mereka berusia 30 atau 40 tahun.”

Ketergantungan seorang anak terhadap orang tuanya bisa menjadi faktor pendukung terjadinya hikikomori. Seorang anak dengan mudahnya menjadi hikikomori, karena para pelaku hikikomori merasa masih bisa hidup meski tanpa bekerja dan sekolah.

Dari faktor-faktor di atas dapat disimpulkan hikikomori merupakan bentuk sebuah perlawanan dan pelarian dari tekanan-tekanan sosial. Beberapa faktor di atas menunjukan bahwa fenomena hikikomori hanya bisa ditemukan di Jepang. Tapi belakangan ini, fenomena penarikan diri ini mulai ditemukan di negara-negara lain seperti di Inggris dan Korea Selatan. Namun jumlahnya tidak sebanyak pelaku hikikomori di Jepang.

Penanganan Hikikomori

Memiliki seorang anak pelaku hikikomori dalam sebuah keluarga merupakan hal yang memalukan. Karena malu, beberapa keluarga berusaha merahasiakan keadaan pelaku hikikomori tersebut di lingkungannya. Para orangtua merasa kurangnya informasi dan dukungan untuk mengatasi masalah mereka. Namun dengan berjalannya waktu, di Jepang mulai muncul institusi-institusi yang menangani hikikomori dengan cara penanganan dati sudut pandang sosial atau sudut pandang psikologi.

Penanganan melalui pendekatan psikologi dapat melalui konsultasi dengan pakar psikolog di sebuah rumah sakit atau institusi tertentu. Sadatsugu Kudo seorang psikolog Jepang membuka sebuah lembaga sosial bernama Youth Support Center dan tiap tahunnya terdapat 1500 keluarga pelaku hikikomori menelpon untuk meminta bantuan. Selain Sadatsugu Kudo mulai bermunculan intitusi lain yang melakukan hal serupa seperti lembaga sosial bernama New Start. Para konsuler yang disebut ’rental sister’ atau ’rental brother’ akan mendatangi rumah pelaku hikikomori, konsuler akan berinteraksi langsung dengan para korban sebagai proses penyembuhan untuk bisa membuat para korban membuang gaya hidup mereka sebagai hikikomori.

Sedangkan penanganan secara sosial lebih menekankan pada perubahan lingkungan tempat pelaku hikikomori tinggal. Seperti yang dilakukan NHK, sebuah stasiun televisi Jepang, membuat sebuah perkumpulan tempat pelaku hikikomori berkumpul berama yang dinamakan Daycare. Di Daycare pelaku hikikomori akan berinterkasi dengan pelaku hikikomori lainnya dan diharapkan untuk dapat kembali ke masyarakat semula. Selain itu, NHK juga membuat sebuah homepage yang khusus membahas hikikomori. Dalam hompage tersebut diberi penjelasan singkat yang dibuat untuk memotivasi agar pelaku hikikomori atau keluarganya tidak takut untuk berkonsultasi.omori

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Oleh-oleh dari Jepang

Today is so wonderfull… setelah sekian lama tidak menginjakkan kaki di bumi Jatinangor, akhirnya saya kembali mengunjungi Jatinangor dan kembali menumpang sama yang namanya damri…

Tujuan saya ke Jatinangor ada beberapa, mulai dari beli karton, beli plastik, ke salon buat potong rambut, beli lotion anti nyamuk, (saya paling suka belanja di jatinangor, karena segalanya serba murah… padahal kalau diperhitungkan dengan ongkos, jadinya sama aja sih…hihi… ) sampai yang utamanya, ngambil barang pesanan dari temenku Syuhadak yang baru pulang dari Jepang.



Yang pesan bukan saya, tapi teman saya (yang lain). Pesanannya yaitu pictorial book KAT-TUN Break The Records (BTR) concert. Kenapa pesan sama temenku? karena kalau kirim via pos ongkos kirimnya mahal. Harga pic booknya 2000 yen *saat ini kurs yen 108 rupiah*, tambah pajak 100 yen, sedangkan kalau via pos tambah ongkos kirim ditotal kalau di kurs-kan jadi 500.000 rupiah! Jadi lebih irit kalau sekalian di bawa pulang aja sama temenku itu… *asas manfaat*

Karena kami (saya dan Syu) penasaran sama isinya, maka seijin yang mpunya, kamipun memerawani itu pictorial book.


Sebenarnya saya juga titip minta beliin barang sama Syu, minta dicariin buku-buku bekas soalnya buku bekas di Jepang muraaah… banget. Yang tadinya ribuan yen cukup jadi 100 yen saja (kurang lebih 10.000 rupiah)! Dan akan menghemat berkali-kali lipat, soalnya buku impor di Gramedia harganya bisa sampai 2X lipat harga di Jepang. Itu si Syu aja kerjanya pas awal-awal datang ke Jepang beli buku-buku skenario dorama melulu. Sayangnya pas saya titip, dia udah sibuk packing barang, jadi katanya gak sempet.

Selain itu, saya juga minta tolong dibelikan pernak-pernik Jepang, seperti Omamori dan sebagainya, nanti uangnya saya ganti di Bandung. Saya sempat mencandai Syu, minta oleh-oleh… . Ternyata, dia beneran beliin saya oleh-oleh (sekali lagi thx ya Syu), seperti yang saya bilang, gantungan kunci atau gantungan hp.


Pas saya sampai di kampus, Syu dan beberapa teman seangkatan saya lagi makan siang, saya ikut gabung aja. Kata Syu bukunya masih dalam perjalanan, (maksudnya, bukunya dibawa dari kost-an sama Khalif). Sesampainya khalif di shokudou *kantin, red.* Syu ngajak saya keluar kantin, ke salah satu kelas yang kosong (belum dipakai kuliah) soalnya sejak tadi ngobrol-ngobrol di kantin (apalagi setelah liat Khalif nyerahin tas kertas besar) Syu memang digoda-godain terus buat ngasi oleh-oleh.

Setelah Syu ngasiin pic booknya, dia juga nyuruh saya milih hp strap semi omamori antara naga dan kura-kura (secara instingtif saya milih kura-kura.hehe..) juga nyuruh saya milih gantungan kunci. Saya pilih gantungan kunci yang cuma ada 1, gantungan kunci yang ada katana *pedang jepang yang suka disebut samurai oleh orang indonesia*. Setelah itu, saya kan liat oleh-oleh yang lain juga, yang katanya untuk dosen, eeh… saya dikasi mencicipi juga… hmm… sejenis apa ya… (Syu juga gak tau namanya) pokoknya makanan dari tepung beras hitam yang diisi anko *kacang merah* dicampu wijen(maaf, saya lupa motret bentuk aslinya, cuma yang di dalam kemasan). Menurut saya sih enak, gak terlalu manis soalnya… . Terus dikasih senbei *sejenis kerupuk ataun keripik menurut orang kita mah, tapi dari beras biasanya* udang. Nah, karena cuma satu, yang ini belum saya cicipi deh rasanya, tapi saya yakin enak *kecuali kalau kamu alergi udang*.

Senang? Tentu. Karena ini pertama kalinya saya dapat oleh-oleh dari Jepang *kacian banget deh gue* Lebih senang lagi karena saya sebenarnya bercanda soal oleh-oleh itu, dan saya sama Syu kan gak terlalu akrab juga. Skali lagi… thx y Syu…

So, I really can say… today is a wonderfull day…

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...