In persahabatan Personal sahabat

Berbicara tentang Sahabat

It’s been a while since my last post. As always, I’m sucks at keeping journal. And I’m also sucks at finishing my writing. So...there’s plenty draft on this blog. Ok, enough mumbling. Di postingan kali ini, si Tiara ingin berceloteh tentang satu hal: persahabatan.



Rasanya tidak akan pernah habis membahas tema yang satu ini. Persahabatan. Dengan segala unsur dan jenisnya. Seiring dengan bertambahnya usia, teman-teman kita menjadi semakin sedikit, namun semakin mendalam. Pertemananpun menjelma menjadi persahabatan. Tapi..apa kita sungguh-sungguh memiliki sahabat?

Kita dapat memiliki ratusan teman, tapi tanpa seorang sahabat, kita akan merasa hampa. Kenapa? Hal ini dikarenakan teman dan sahabat memiliki nilai yang berbeda. Seseorang dapat menjadi teman karena beberapa hal: persamaan minat, kedekatan wilayah, dan ada keuntungan yang didapatnya dari kita. Namun seseorang baru bisa menjadi sahabat setelah melalui waktu yang cukup panjang.


WHAT MAKES A FRIEND WORTHY OF THE NAME?
1.    A commitment to your happiness. A true friend is consistently willing to put your happiness before your friendship. It's said that "good advice grates on the ear," but a true friend won't refrain from telling you something you don't want to hear, something that may even risk fracturing the friendship, if hearing it lies in your best interest. A true friend will not lack the mercy to correct you when you're wrong. A true friend will confront you with your drinking problem as quickly as inform you about a malignant-looking skin lesion on your back that you can't see yourself.
2.    Not asking you to place the friendship before your principles. A true friend won't ask you to compromise your principles in the name of your friendship or anything else. Ever.
3.    A good influence. A true friend inspires you to live up to your best potential, not to indulge your basest drives.
diambil dari https://www.psychologytoday.com/blog/happiness-in-world/201312/the-true-meaning-friendship


Berdasar cuplikan di atas... maka seorang teman baru pantas disebut sahabat jika:
  1. Berkomitmen pada kebahagiaanmu. Seorang sahabat akan lebih mementingkan kebahagiaan sahabatnya dibandingkan hubungan yang dimiliki. Seorang sahabat tidak akan takut merusak persahabatannya demi kebahagiaan sang sahabat. Dia tidak akan merasa takut untuk mengingatkan ketika sahabatnya salah. 
  2. Tidak akan meminta untuk mengedepankan persahabatan di atas prinsipmu.
  3. Memberi pengaruh baik. Seorang sahabat yang baik mendukungmu untuk mengembangkan potensi terbaikmu.


Saya termasuk orang yang beruntung. Karena saya memiliki beberapa sahabat. Sahabat menerima apa adanya saya. Walau saya sering menyebalkan. Kadang saya sendiri tidak bisa memahami bagaimana mereka tetap bisa betah bersahabat dengan saya yang serius, pemarah dan moody ini.



Saya memang beruntung, karena saya tidak pernah berusaha mencari sahabat. Saya mendapatkannya secara alami. Namun melihat hubungan manusia zaman sekarang, saya menemukan sebuah fakta kecil bahwa banyak orang yang merasa kesepian. Orang-orang yang merasa kesepian di antara banyak orang. 


Sahabat baru bisa kita peroleh setelah kita menabur bibit persahabatan. Menyemai dan merawatnya melalui berbagai cobaan. Well, saya sedikit beruntung karena sahabat yang bersama saya saat ini terjadi secara natural tanpa ada usaha keras untuk merawatnya. Somehow, we're just connected. Karena itu, saya menyebutnya sebagai sebuah berkah. Tapi semua itu tentunya dimulai dari sebuah bibit persahabatan yang pernah disemai.


Persahabatan sendiri bersifat dua arah, bukan satu arah. Kamu terus yang curhat, tanpa memikirkan perasaan sang sahabat...itu bukan persahabatan. Kelak dia akan pergi karena tidak tahan lagi menjadi tong sampah emosimu. Selalu memaksakan kehendak...itu juga bukan persahabatan. Karena seorang sahabat menghargai pendapat sahabatnya. Dalam persahabatan, semuanya bersifat resiprokal. 


Persahabatan tentu saja bisa rusak oleh beberapa hal seperti:
  1. Uang
  2. Cinta
  3. Kehilangan kepercayaan
  4. Ketidak terbukaan
  5. Ketidak setiaan

Namun sesungguhnya kelima hal di atas tidak akan dapat menghancurkan persahabatan sejati. Persahabatan yang muncul atas motivasi yang murni. 



Melalui postingan ini sebetulnya saya ingin mengajak diri saya sendiri dan siapapun kalian yang membaca postingan ini...untuk mensyukuri sahabat yang kalian miliki, dan berusaha untuk menjadi sahabat yang baik. 






Jadi...sudahkah kita menjadi sahabat yang baik? 





Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...