In art art stage 2017 exhibition pameran lukisan pameran seni

Seni yang memanusiakan manusia... Art Stage Jakarta 2017

Jadi, konon katanya gerhana bulan tanggal 7 Agustus kemarin memberikan pengaruh baik pada manusia berzodiak leo yang berada di bawah kuasa matahari, diantaranya adalah improvement pada pada bidang finansial, pernikahan, pekerjaan, dan anak. Lalu apa hubungannya dengan seni yang memanusiakan manusia ini? Ehm, gak ada sih. Hahaha. Cuma saya ketik begitu karena sepertinya keren aja sebagai kalimat pembuka. Ampun ya...jangan disambit ya. Disawer aja pake duit seratus ribuan boleh deh. Maklum, tengah bulan gini belum gajian jadi agak engap. Hahaha.





Ok, jadi ceritanya akhir-akhir ini si Tiara mulai geser otaknya merasakan ada perbedaan. Yang dulunya suka banget petualangan dan permainan ekstrim, sekarang antri di Dufan aja malesss banget. Mau naek roller coaster juga agak berat. Malah sekarang lebih tertarik dan betah di acara yang "membosankan" macam pameran filateli (yang postingannya belum ditulis). Nah kali ini si Tiara mengunjungi acara pameran seni yang bertajuk Art Stage Jakarta 2017.

Berawal dari browsing mencari event yang sekiranya menarik untuk dikunjungi, saya menemukan event ini. Berikut adalah deskripsi acara yang tertera pada website resmi mereka.

As the bridge between the global art world and Southeast Asia's largest and most dynamic contemporary art scene, ART STAGE Jakarta is the world’s platform  to discover and engage with Indonesia’s artists, collectors and galleries. Like its sister fair in Singapore, ART STAGE Jakarta, offers audiences the most comprehensive and up-to-date overview of Southeast Asia’s fast-growing contemporary art scenes.
Attesting to ART STAGE Jakarta’s professionalism, high standards and quality, 60 of the best galleries from Indonesia, Southeast Asia and the world converge in Jakarta for the second edition of the Fair, making ART STAGE Jakarta truly Indonesia’s international premium art fair.
Of the participating galleries, 24 are from Indonesia. The Fair presents 36 international galleries from Australia, China, France, Germany, Hong Kong, Japan, Malaysia, the Netherlands, the Philippines, Russia, Singapore, South Korea, Spain, Taiwan, Thailand and the United States of America. 

Deskripsi di atas cukup untuk membuat saya memutuskan untuk mendatangi acara ini. Acara ini diadakan di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel dari tanggal 7-13 Agustus 2017. Free entry pula! Jadi tidak ada alasan untuk tidak datang ke acara ini. 

Layaknya pekerja yang hanya punya waktu luang di akhir minggu, maka saya datang ke acara ini pada hari minggu tanggal 13 Agustus 2017 yang merupakan hari terakhir pameran ini berlangsung. Ketika memutuskan untuk mendatangi acara ini, saya belum tahu apakah saya akan menyukainya atau akan bosan setengah mati. Namun di luar dugaan, I'm loving it! Begitu banyak keindahan yang menyegarkan mata. Perpaduan warna yang begitu detil dan indah. Yang begitu memuaskan sisi perfeksionis saya. Begitu banyak karya-karya yang out of the box.


Look at those crisp...it look so real I wanna bite it. 

Saya yang di dunia kerja berkutat dengan hal teknis (yaah, walaupun saya di bidang bahasa, tapi saya berkutat dengan bahasa di bidang teknis) serasa dapat penyegaran. Ada banyak karya cantik yang ditampilkan di sana. Lengkap dengan berbagai filosofi di balik pembuatan karya tersebut.






Saya ambil satu contoh ya. Maaf saya lupa ini karya siapa (yang tahu, tolong beritahu saya ya...), tapi karya di atas ini merupakan interpretasi sang seniman terhadap sejarah Indonesia. Karya ini melambangkan 3G, Gold, Gospel, dan Glory. Yang tau 3G ini pasti sudah bisa langsung melihat korelasinya kan. Tapi ada yang lebih! Jubah emas tersebut dibuat dari biji pala yang diproses menggunakan elektroplating dengan emas 24 karat! Disepuh satupersatu, lalu dirangkai menjadi jubah!





Apa yang membedakan manusia dengan hewan? Karena manusia berakal. Manusia dapat berfikir. Manusia memiliki cipta, karya, rasa, karsa. Karya seni yang ditampilkan di acara ini merupakan salah satu bukti terbaik dari rasa, karsa, cipta, dan karsa manusia.








Menurut saya, acara ini cocok untuk seluruh kalangan usia. Anak-anak kecil dapat menikmati karya melalui keindahan yang memanjakan mata. Sementara orang-orang tipe pemikir seperti saya dapat menikmati acara ini mulai dari memikirkan filosofi dibalik penciptaannya, teknik penciptaannya, dan berbagai hal yang lebih mendetil lainnya. 



Di dunia yang serba modern, digital, serba ingin instan, perlu rasanya sesekali kita mendatangi acara seperti ini. Orang tua perlu sesekali membawa anaknya yang sangat tech savvy ke acara semacam ini. Kenapa? Karena setiap hari kerja/sekolah-pulang (tidur)-kerja/sekolah dengan lingkungan yang semakin modern membuat kita semakin menjadi seperti robot. Karena itu kita perlu dimanusiakan kembali. Salah satunya adalah melalui seni. 



Oh iya, bukan Tiara namanya kalau gak bawa "oleh-oleh". I looove freebies. Dan ini adalah freebies yang saya dapat di hari ini. Sebetulnya ada banyak majalah free copy yang bisa diambil, tapi sayangnya saya masih punya malu tas saya kecil, jadi saya cuma ambil 3 jenis di bawah ini. 


Ok, Thanks for reading...saya sudah agak lama gak nulis, jadi tulisan saya pasti berantakan dan gak jelas juntrungannya. Hehehe. Sebagai penutup, saya tampilkan beberapa foto karya yang ditampilkan di acara ini ya. 

Enjoy!















Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In Personal suka duka berbadan pendek tinggi badan

My 152 cm life




Hola!

Jadi, tadi siang ceritanya saya mau nyervis hp ke BEC, eh karena saya kepagian, counternya masih tutup jadi saya memutuskan ke gramedia dulu buat nunggu sampai buka. Padahal udah tau sih, gramedia itu racun banget buat dompet saya. Saya gak gampang tergoda make up, pakaian, makanan, tapi saya bisa beli buku secara impulsif! Daaaan... tadaaaa....ini hasil jajan impulsif saya hari ini!

Buku ini berjudul 150 cm life. Isinya? Ya tentang suka dukanya hidup seorang perempuan dengan tinggi badan 150 cm. Saya gak pernah nyangka kalau cerita gini "doang" juga bisa jadi buku. Tapi pas baca sekilas di gramedia saya jadi nyengir-nyengir sendiri, dan akhirnya memutuskan untuk membeli buku ini.

Buku ini dikemas dengan baik, lucu juga. Ilustrasinya bagus dan yang pasti isinya bikin nyengir-nyengir sendiri. Yang penasaran sama isi buku ini bisa cari di toko buku terdekat di kota anda ya.

Anyway, saya juga gak beda jauh tingginya, kadang pas diukur jadi 149 cm, kadang 150 cm, kadang 152 cm, kadang 153 cm, tapi saya lebih sering "ngaku" bertinggi badan 152 cm. Karena itu saya juga mau share sedikit suka duka hidup dengan ukuran badan saya.

About me


Saya bertinggi badan 152 cm, panjang tapak kaki 21,5 cm, berat badan...hmm... antara 45-47 kg (tergantung lagi gembul apa ngga..hihi).

Umur? Umur saya berenti di 21 tahun sejak lebih dari 9 tahun lalu... hihi. *disambit pembaca*.

Iyaaa..iya, saya tante-tante. Saya juga tau. Wew.


My story begins..

Saya gak "imut" sejak lahir kok. Hehehe. Tapi pertumbuhan badan saya berhenti sejak saya SD kelas 6. Sampai 5 tahun lalu, saya masih punya kaos yang saya pakai sejak SD (dan masih muat!).

About wardrobe

OK, ini memang annoying dan udah bikin saya harus "terima nasib" sebagai orang mungil.
Setiap beli celana harus dipotong lumayan panjang. Padahal udah size S (malah kadang XS), jadi kalau nemu celana ukurannya bisa pas itu rasanya...berkah banget. Hihi.

Saya udah mulai mengurangi pake celana panjang sih, tapi rok, dress, maupun gamis juga nasibnya sama. Harus dipotong ujungnya. Untuk gamis kadang ada yang ukurannya pas...tapi...ada tapinya nih...biasanya itu gamis dengan brand desainer yang harganya bikin mikir-mikir dulu kalau mau beli #maaptiarapelit.

Nah soal sepatu... akhir-akhir ini sih saya mulai agak sedikit lebih mudah menemukan sepatu ukuran saya. Kalau beberapa tahun lalu...saya gak jarang pake sepatu size anak-anak. Doeeeng.

Soal baju, kalau baju dewasa saya jarang nemu yang muat juga, kecuali merk kayak The Executive, size S nya pas di badan saya. Kalau mau brand yang agak murah? Saya harus cari ukuran remaja.


About Social life. 

Saya pernah ngajar di SMA selama 3 tahun. I was young at that time. Dan sedihnya pas membimbing siswa ke AKMIL di Malang, saya disangka salah satu murid. Hahaha. Sama sopir bus, tour leader, sampe bapak tentara.

Nah sekarang, di kantor yang baru ini...beberapa kali saya disangka anak PKL. Mungkin saya haru pake make up lebih tebal dan lipstik warna ngejreng kali ya biar gak disangka anak PKL. Hihihi.


About high place

Nah ini sesuatu juga! Kalau belanja ke supermarket dan liat benda yang dimau itu di rak atas, saya harus cari-cari spg buat bantuin ambil. Hihi.

Saya juga kesulitan untuk naro bagasi di kompartemen atas pas di pesawat, sampe akhirnya saya injek aja bangkunya buat naro. Kadang ada yang bantu sih, tapi gak selalu. Nah di saat-saat seperti itulah saya merasa sedih. Ups... tag line saya merasa sedih udah basi ya. Hihi.

Nah kalau di bus, atau CL, saya juga suka kejepit-jepit. Yang paling nyebelinnya itu adalah ketika 2 hal:
1. Sikut orang yang pegangan ke handle pas ada di atas kepala saya.
2. Ketek orang pas ada depan muka saya.

Oh iya, kalau duduk di kursi "normal" kaki saya bakal menggantung, gak napak tanah. Hihi. And somehow I like it.


Terus..enaknya apa bertubuh mungil? Nggg...Ngga tau tuh. hihi.

Jadi, berapa tinggi badan kamu dan hal menarik apa yang berkaitan dengan badan kamu? You are welcome to share it!






Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In interpreter Penerjemah pengalaman

Menjadi Penerjemah Pemula


"Nobody told me it's gonna be this hard"


Mampus! What did I just got myself into! Itu hal yang melintas di pikiran saya pada hari ke-2 saya masuk ke kantor saya sekarang sebagai interpreter. Melihat interpreter senior bertugas, ketika pihak A berbicara mengguankan bahasa Jepang, dia lalu langsung juga menerjemahkan perkataan tersebut ke bahasa Indonesia, demikianpun sebaliknya. It's a tough job, bro! Frekuensi bicaranya tentunya dobel dibanding dengan tokoh utama dalam meeting tersebut.

Tapi saya "terlanjur" memilih jalan profesi ini untuk mewujudkan visi besar untuk masa depan saya, so there is no turning back for me. I'll finish what I've started.

Anyway, saya menulis postingan kali ini untuk sharing mengenai suka duka jadi penerjemah baru. Karena di grup fb penerjemah saya sering menemukan pertanyaan mengenai suka duka penerjemah baru, tapi hampir tidak ada yang menjawab secara jelas. Hihi. Hopefully ini bisa bermanfaat untuk kawan-kawan yang mau mencoba jadi penerjemah.

The beginning is always hardest part. 

Jadi, saat postingan ini ditulis, saya memasuki bulan ke-3 bekerja sebagai interpreter. Saya akan menulis secara terperinci apa yang saya alami sepanjang 2 bulan ini.

Hari ke-3 saya masuk, tiba-tiba ada yang minta support. Support di sini berarti...membantu komunikasi antara pihak ekspat dengan staf lokal. Hasilnya? Babak belur dooong. Hihi. Dari seluruh pembicaraan saya cuma menangkap 2 kalimat.

Setelah 2 hari masuk kerja, bisa dibayangkan seberapa jauh pengetahuan saya mengenai perusahaan, produk, proses dsb. Setelah selesai diskusi saya langsung meminta maaf ke kedua pihak karena belum bisa support dengan baik.

Seminggu pertama saya habiskan dengan feeling stress dengan pekerjaan baru saya. Rasanya pengen berhenti dan kembali ke perusahaan sebelumnya, eh ding, jangan balik lagi ke perusahaan sebelumnya juga sih. Hihi. 2 minggu bekerja, komplain datang berhamburan. Sayapun semakin stres.

Apa yang membuat stres?

Saya tau masalah utama saya itu di penguasaan kosa kata, saya merasa begitu banyak yang harus saya kuasai tapi saya bingung harus mulai darimana sementara waktu terus berjalan dan tuntutan terus berdatangan. Saya tau dan yakin saya pasti bisa, tapi saya merasa butuh waktu. Tapi tentunya pekerjaan tidak berjalan sesuai dengan ritme saya.

Saya juga merasa marah dan kesal ketika beberapa orang yang tidak paham dengan bidang bahasa terkesan menyepelekan proses menerjemahkan atau interpret. Pokoknya saya baper dan pengen dimaklum. Di sisi lain juga saya serba takut. Takut salah ngomong, salah menyampaikan, takut kalau saya bertanya akan jadi memperpanjang durasi meeting yang mengakibatkan penyakit lama saya yang suka jadi bisu kambuh. Sisi perfeksionis saya menahan saya untuk bersuara ketika di otak saya saya tidak bisa menemukan bentuk kalimat yang sempurna.

Bercermin dari masalah itu, saya merasa konyol sendiri. Karena itu hal yang selalu saya wanti-wanti ke murid saya dulu.

"Jangan takut salah, ngomong aja, namanya juga masih belajar."

"Jangan takut nanya, jangan mikir orang jadi terganggu kalau kamu nanya"

Setelah sharing sana sini, pada akhir bulan pertama akhirnya saya mulai belajar gak baper. Masa bodo dengan komplain. Tapi tentunya dengan terus berusaha meng-improve kemampuan saya dan mempush diri untuk berani bersuara.

Memasuki bulan ke-2, saya mulai lebih berani bersuara. Tentunya tetap dengan proses, ga langsung bisa berkicau. Apakah komplain berkurang? Wah ya ngga juga...hihi. Malah pernah dalam meeting yang saya rasa terlancar, eh malah dapat komplain yang bikin atasan-atasan saya kebakaran jenggot.

Eh, eh, kok jelek semua ya isinya. Ah gak jelek semua kok yang dialami. Ada sukanya juga.

Kapan ada sukanya? 

Jadi penerjemah/interpreter itu...menonjol ketika ada masalah. Dan tidak terlihat ketika meeting berjalan lancar. Itu adalah hukum tidak tertulis yang ada di dunia penerjemah.

Bagi saya sendiri ada beberapa moment yang terasa bagai oase di padang pasir. Yaitu ketika:
1. Presdir tiba-tiba nanya
"Saya kalau ngomong kecepetan ga?"
"Ngga sih, pak, cuma..."
"Kosa kata khusus ya?"
"Iya.."
"Sabar aja, nanti juga kalau udah terbiasa bisa kok"
2. Presdir mengucapkan terimakasih atas support yang diberikan
3. Ada engineer yang mau membantu menjelaskan ulang kalimat dengan bahasa yang lebih awam agar saya paham konsep yang harus saya sampaikan.
4. Para bapak manager memberi masukan untuk improvement saya.

Memasuki bulan ke-3 ini, saya mulai berusaha melakukan pendekatan personal. Sebetulnya pendekatan personal ini bukan salah satu usaha untuk semata-mata memperlancar pekerjaan. Karena pada dasarnya saya pribadi yang cukup senang bersosialisasi. Hanya saja, selama 2 bulan kemarin, energi saya habis terkuras karena terlalu fokus pada stres dengan banyaknya pekerjaan dan pengetahuan yang harus saya kuasai.

Di saat ini, saya masih harus meng-improve performance dan kemampuan saya.

Mulai dari suara yang harus lebih keras (di sini saya juga heran, lha wong saya kalau ngajar dulu suara selalu keras kok), sampai yang utamanya...saya harus menguasai kosakata.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In Personal

Me before you


Have I mentioned that I'm so tear prone? Hehehe. And this is a movie that still can bring tears to my eyes after months I watched it.

Saya nonton film ini cuma sekali, tapi begitu membekas kuat. Dan masih berhasil bikin saya nangis tiap liat adegan-adegan atau dengar soundtrack nya. Bukan..bukan karena Sam claflin ganteng di film ini (walau memang dia ganteng sih), bukan juga karena ini cuma salah satu kisah cinderella masa kini.

Tapi...karena I know how it feels to lose everything. To lose life.

Dari banyaknya review yang saya baca, banyak yang mengatakan kisah ini terlalu cengeng. Atau Will lebay karena memilih euthanasia. But dear, have you ever lose something that was your everything?

Will yang dulunya begitu atletis, jago dalam semua kegiatan fisik, kini harus duduk di kursi dorong. That can be so frustrating. And I understand how it feels. And the fact that it can not be healed leave only one choice: to die.

And that's the main reason why it still can bring tears to my eyes everytime I saw it.

So, which movie have hit your soft spot?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In pisau victorinox

Balada Sebilah Pisau


Jadi, apa istimewanya dengan sebilah pisau? Yaah, pertama, akhirnya setelah lebih dari setengah tahun pengen beli pisau, akhirnya terbeli juga. Kedua, karena ini pisau victorinox!

Err...wait. Kalau kamu tanya, selama ini saya gak pakai pisau, terus pakai apa dong? Jawabnya...saya pakai cutter! Hihihi. Walhasil isinya jadi harus sering-sering ganti karena jadi cepat berkarat.

Ehm, balik lagi ke soal pisau, sebetulnya saya sendiri gak tau apa keistimewaan dari pisau victorinox ini. Yang saya tahu, pisau ini pisau berkualitas dengan merk terkenal, terutama untuk swiss army-nya.

Jadi, saya setiap ke supermarket selalu berusaha mencari pisau. Saya ingin pisau yang ada case bagian blade nya biar aman disimpan dan dibawa-bawa. Tapi akhir-akhir ini pisau yang ada case nya itu ternyata jarang yang jual. kalaupun ada juga lumayan mahal. Sampai akhirnya saya berfikir "yah, kalau memang mahal, kenapa ga beli yang berkualitas sekalian?" sampai akhirnya saya membeli pisau victorinox ini secara agak impulsif (gak terlalu impulsif karena sebelumnya udah puter-puter beberapa supermarket, gak nemu yang dimau).

Kalau dipikirkan, agak berat juga ya, sebilah pisau dengan harga "segitu". Tapi kemudian saya ingat pisau mama saya yang usianya...hmmm... lebih dari 10 tahun sepertinya. So, a nice knives must be worth it's price.

Anyway, setelah browsing sana sini, saya menemukan sedikit info mengenai keistimewaan victorinox ini:

The Swiss Classic 4-Piece 3.25" Spear Tip Paring Knife Set by Victorinox features 4 paring knives, each with a colorful ergonomic handle that fits nicely in your hand, as well as a sharp blade that holds its edge.
This set includes one 3.25-inch spear tip paring knife in each of four colors - yellow, pink, orange and green.
Victorinox knives all have high carbon, stainless steel blades that are hand finished at Victorinox in Switzerland by skilled craftsmen. Each knife is stamped from a single sheet of metal. The blade is then hardened, tempered, ground, polished, etched and finished. Victorinox uses a special tempering process to produce an edge that can be resharpened over and over again.
The contemporary handles of Swiss Classic knives are inspired by the patented fibrox handles of Victorinox's professional knives, which are the preferred tools of chefs around the world. Swiss Classic handles are NSF approved, with minimal crevices to offer hospitality to bacteria.
The pointed tip of this Swiss-made parer is perfectly designed for almost any small task, from hulling strawberries to dicing garlic or chives to deveining shrimp. This versatile parer is also an excellent gardening companion.
Blade Length: 3.25 inches
Swiss-made • Lifetime Warranty

1. Hand finished
2. Dibuat dari selembar metal
3.  Menggunakan proses tempering khusus sehingga dapat ditajamkan berulang kali.

Anyway...karena browsing soal pisau ini, saya jadi tau beberapa hal:
1. Nama, jenis, dan fungsi-fungsi pisau.
2. Cara menggunakan pisau yang baik dan benar (dan ternyata cara saya menggunakan pisau selama ini itu salah!).



Yang saya beli adalah paring knive. Memang di situ disebut delicate and small, tapi untuk tangan saya yang kecil, jatuhnya ngga small juga sih..heuheu. Jatuhnya..cukup pas aja.

Dilihat dari spec nya, sebetulnya paring knives lebih untuk memotong sayur dan buah. Tapi mengingat tajamnya pisau yang saya beli dan ukurannya yang gak pendek-pendek amat, rasanya untuk daging juga masih bisa.

Jadi, udah punya pisau jenis apa aja?

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In persahabatan Personal sahabat

Berbicara tentang Sahabat

It’s been a while since my last post. As always, I’m sucks at keeping journal. And I’m also sucks at finishing my writing. So...there’s plenty draft on this blog. Ok, enough mumbling. Di postingan kali ini, si Tiara ingin berceloteh tentang satu hal: persahabatan.



Rasanya tidak akan pernah habis membahas tema yang satu ini. Persahabatan. Dengan segala unsur dan jenisnya. Seiring dengan bertambahnya usia, teman-teman kita menjadi semakin sedikit, namun semakin mendalam. Pertemananpun menjelma menjadi persahabatan. Tapi..apa kita sungguh-sungguh memiliki sahabat?

Kita dapat memiliki ratusan teman, tapi tanpa seorang sahabat, kita akan merasa hampa. Kenapa? Hal ini dikarenakan teman dan sahabat memiliki nilai yang berbeda. Seseorang dapat menjadi teman karena beberapa hal: persamaan minat, kedekatan wilayah, dan ada keuntungan yang didapatnya dari kita. Namun seseorang baru bisa menjadi sahabat setelah melalui waktu yang cukup panjang.


WHAT MAKES A FRIEND WORTHY OF THE NAME?
1.    A commitment to your happiness. A true friend is consistently willing to put your happiness before your friendship. It's said that "good advice grates on the ear," but a true friend won't refrain from telling you something you don't want to hear, something that may even risk fracturing the friendship, if hearing it lies in your best interest. A true friend will not lack the mercy to correct you when you're wrong. A true friend will confront you with your drinking problem as quickly as inform you about a malignant-looking skin lesion on your back that you can't see yourself.
2.    Not asking you to place the friendship before your principles. A true friend won't ask you to compromise your principles in the name of your friendship or anything else. Ever.
3.    A good influence. A true friend inspires you to live up to your best potential, not to indulge your basest drives.
diambil dari https://www.psychologytoday.com/blog/happiness-in-world/201312/the-true-meaning-friendship


Berdasar cuplikan di atas... maka seorang teman baru pantas disebut sahabat jika:
  1. Berkomitmen pada kebahagiaanmu. Seorang sahabat akan lebih mementingkan kebahagiaan sahabatnya dibandingkan hubungan yang dimiliki. Seorang sahabat tidak akan takut merusak persahabatannya demi kebahagiaan sang sahabat. Dia tidak akan merasa takut untuk mengingatkan ketika sahabatnya salah. 
  2. Tidak akan meminta untuk mengedepankan persahabatan di atas prinsipmu.
  3. Memberi pengaruh baik. Seorang sahabat yang baik mendukungmu untuk mengembangkan potensi terbaikmu.


Saya termasuk orang yang beruntung. Karena saya memiliki beberapa sahabat. Sahabat menerima apa adanya saya. Walau saya sering menyebalkan. Kadang saya sendiri tidak bisa memahami bagaimana mereka tetap bisa betah bersahabat dengan saya yang serius, pemarah dan moody ini.



Saya memang beruntung, karena saya tidak pernah berusaha mencari sahabat. Saya mendapatkannya secara alami. Namun melihat hubungan manusia zaman sekarang, saya menemukan sebuah fakta kecil bahwa banyak orang yang merasa kesepian. Orang-orang yang merasa kesepian di antara banyak orang. 


Sahabat baru bisa kita peroleh setelah kita menabur bibit persahabatan. Menyemai dan merawatnya melalui berbagai cobaan. Well, saya sedikit beruntung karena sahabat yang bersama saya saat ini terjadi secara natural tanpa ada usaha keras untuk merawatnya. Somehow, we're just connected. Karena itu, saya menyebutnya sebagai sebuah berkah. Tapi semua itu tentunya dimulai dari sebuah bibit persahabatan yang pernah disemai.


Persahabatan sendiri bersifat dua arah, bukan satu arah. Kamu terus yang curhat, tanpa memikirkan perasaan sang sahabat...itu bukan persahabatan. Kelak dia akan pergi karena tidak tahan lagi menjadi tong sampah emosimu. Selalu memaksakan kehendak...itu juga bukan persahabatan. Karena seorang sahabat menghargai pendapat sahabatnya. Dalam persahabatan, semuanya bersifat resiprokal. 


Persahabatan tentu saja bisa rusak oleh beberapa hal seperti:
  1. Uang
  2. Cinta
  3. Kehilangan kepercayaan
  4. Ketidak terbukaan
  5. Ketidak setiaan

Namun sesungguhnya kelima hal di atas tidak akan dapat menghancurkan persahabatan sejati. Persahabatan yang muncul atas motivasi yang murni. 



Melalui postingan ini sebetulnya saya ingin mengajak diri saya sendiri dan siapapun kalian yang membaca postingan ini...untuk mensyukuri sahabat yang kalian miliki, dan berusaha untuk menjadi sahabat yang baik. 






Jadi...sudahkah kita menjadi sahabat yang baik? 





Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In QOTD

Winners

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Aku...

Aku berusaha...
Terus berusaha
Memperbaiki kurangku
Mengejar tertinggalku
Aku berusaha...
Walau kadang lelah
Walau kadang bingung
Karena begitu banyaknya kurangku
Aku hanyalah wanita akhir zaman,
Yang sedang belajar taat

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Mindset


JLPT N2
TOEFL di atas 500
Pengalaman tinggal di Jepang setahun


Tapi masih ga pede apply kerja

Tanya kenapa!




Ternyata mental saya masih cemen. 
Belum pulih. 
Pada akhirnya...semua bermuara pada mindset.



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Yang tersisa


Guru saya di Jepang menulis pesan kelulusan saya dengan “Mutiara, menurutmu, apa yang tersisa dari kehidupanmu di Jepang? Di kehidupanmu selanjutnya, semangat terus ya.”

Maaf kalau terjemahannya terjun bebas gitu ya. Hihi. Intinya sih, apa yang saya dapat dari kehidupan saya di Jepang. Saya cukup terkesan dengan pesan singkat itu. Mungkin pesan itu ditulis oleh beliau karena memang saya tidak semuda teman-teman saya di sekolah, sehingga beliau menyadari, tujuan saya ke Jepang bukan untuk materi seperti umumnya teman-teman lain. Tapi lebih dari itu, ada tujuan lain yang ingin saya raih (plus mungkin karena saya tidak semuda teman-teman lain, pertanyaannyapun jadi lebih filosofis ya...hihi).

Setelah saya pikirkan baik-baik, hikmah apa yang saya dapat dari kehidupan singkat saya selama setahun di Jepang itu, hasilnya adalah berikut ini: 

Memahami pentingnya hubungan antar manusia

Sistem sosial masyarakat Jepang yang tidak mau mengganggu privacy orang lain membuat mereka cenderung lebih tertutup. Sehingga hubungan antar manusiapun lebih terkesan artifisial. Selama di Jepang, saya sering merasa stres. Kesepian. Bukan karena ga punya temen banget. Tapi karena sisi ekstrovert saya kurang suplay energi. Hehehe.

Teman banyak, tapi semua sibuk. Waktu untuk bercengkrama kurang. Giliran saya senggang, mereka sibuk. Saya sibuk, mereka senggang. Pulang baito, supermarket udah mau tutup. Teman baito pun tidak pernah mengajak saya bergaul ala mereka yang makan-makan sambil minum di bar karena tahu saya tidak minum alkohol dan makan babi (eh pernah sekali sih waktu awal baito sebetulnya, tapi karena besoknya ada ujian saya tolak) dan malah kaget ketika saya bercerita habis pergi yakiniku-an, ga kebayang katanya, kalau saya yakiniku-an.  Saya rajin chat dengan keluarga dan teman. Tapi tetap, interaksi langsung dengan manusia ternyata penting. Hihihi.

Setiap budaya memang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sementara orang Indonesia terlalu ramah dan kepo sampai-sampai bikin jengah, orang Jepang malah ramah, tapi terasa artifisial, karena selalu terasa ada jarak. Ibarat gula, manisnya hanya di lidah saja. Sementara orang Indonesia, sekali suap, gula darah langsung melonjak tinggi dan kena diabetes.




Pekerjaan

Bagi orang Jepang, pekerjaan adalah tuhan mereka. Karena hanya dengan bekerja, mereka dapat hidup. Mereka tidak mengenal konsep rejeki seperti umumnya orang Indonesia. Karena itu tidak aneh kalau mereka sangat pekerja keras. Mengenai pekerjaan ini hal yang saya dapatkan adalah tidak ada gengsi dalam pekerjaan. Kerja itu apa aja. Kalau bisa bekerja, kerjakan. Yang penting halal (buat saya sih). Hehehe. Contohnya...kalau di Indonesia, pekerjaan cuci piring di resto itu kesannya remeh banget kan ya. Jadi pelayan juga kayaknya hina amat. Cuma dikerjakan oleh mereka yang kurang skill alias kurang berpendidikan alias...karena mereka ga bisa kerja lain, mereka jadi pelayan. Saya secara pribadi tidak pernah menganggap pekerjaan seperti itu hina. Hanya saya sering mendengar “Masa sarjana kerja gitu?” atau “Ih, dia tuh mahasiswa loh” (pas liat pelayan atau OB yang memberi kesan bahwa OB atau pelayan itu ga bisa jadi mahasiswa). Sementara yang saya lihat di Jepang tentunya berbeda karena konsep hidupnya juga berbeda. Pekerjaan “remeh” seperti itu dilakukan bukan semata-mata karena mereka kurang skil. Tapi misalnya pelajar yang masih harus berbagi waktu dengan sekolah. Atau ibu rumah tangga yang mengisi waktu luang dan menambah penghasilan setelah mengurus keluarga. Kalau pelajar sih memang keluar dari tempat kerja masih jalan kaki atau boseh sepeda ya. Tapi macam ibu rumah tangga itu, kalau ketemu di mall sih gayanya bukan main. Karena mulai SMA umumnya manusia Jepang sudah terbiasa sekolah sambil bekerja.

Rasanya indah kalau pola kehidupan seperti itu dapat diterapkan di Indonesia. Tidak ada pekerjaan yang hina. Pelajar atau ibu rumah tangga tetap bisa bekerja sebagai pekerja paruh waktu. Sementara sejauh ini yang saya lihat sih di Indonesia masih belum banyak perusahaan yang mau menerima pekerja paruh waktu seperti itu. Di Indonesia yang saya lihat adanya pekerjaan dengan kontrak dan gaji temporer tapi dengan tanggung jawab dan waktu yang dituntut full. Padahal saya sih pengen banget bisa ada sistem kerja part time seperti di Jepang. Karena dengan seperti itu memungkinkan para ibu rumah tangga untuk bisa bekerja tanpa mengenyampingkan keluarganya. Ngarep banget ya bisa kayak gitu. Hehehe. Soalnya cita-cita saya banget bisa tetep kerja tapi pekerjaan tidak mengganggu urusan keluarga.

Saya bercita-cita untuk bisa tetap bekerja di luar rumah sambil mengurus keluarga (dengan porsi tidak lebih besar dari keluarga tentunya) karena saya sadar saya tipe yang dinamis. Kalau saya terkurung terus, saya bakal stres. Saya butuh interaksi dengan berbagai orang. Karena itu saya sangat suka mengajar. Karena dalam mengajar ada dinamika, ada perubahan ruang, dan saya dipaksa untuk terus belajar

Hidup sederhana dan perubahan cara pandang dalam menilai materi

Ada hal yang menurut saya menggelikan. Sementara bagi orang Indonesia imej orang yang tinggal di luar negri itu mewah, pada kenyataannya, justru kehidupan orang Indonesia yang tinggal di luar negri itu umumnya sederhana dan penuh kerja keras. Sebelumnya di Indonesia saya lahir dan dibesarkan dengan cara sederhana juga. Sampai di suatu titik, saya ga lagi sederhana. Saya terlenakan oleh materi. Saya bisa membeli apa yang saya mau tanpa berpikir panjang. Saya bisa mengoleksi barang ga penting macam parfum ori (yes...I was a fragrant junkie), branded stuff, kosmetik, sampai mainan hadiah resto fastfood dsb.

Hidup di Jepang, karena memang saya juga ga butuh tampil wah, saya secara alami kembali hidup sederhana. Siklus hidup yang sekolah-kerja membuat saya tidak perlu tampil terlalu modis dengan polesan make up. Errr...ya sebetulnya orang lain gak gitu-gitu amat sih. Cuma kalau saya sih, ngapain juga ke sekolah terus ke laundry dengan pakaian modis plus make up. Make up masih saya gunakan ketika saya mengajar aja. Kenapa? Karena kalau sebagai guru, saya merasa perlu menampilkan kerapihan dan profesionalitas (ecieeee...hihi). Selain itu, iphone yang lambang gengsi di Indonesia di Jepang sih rasanya biasa-biasa saja. Tas coach dan LV aja digantung di stang sepeda (eh, no kw yah di Jepang..hihi). Sehingga di mata sayapun kemewahan barang-barang tersebut menghilang.

Seperti yang umumnya diketahui, kehidupan orang Jepang berpusat pada materialisme. Tidak ada tuhan bagi mereka. Yang saya sadari, materi tidak mendatangkan kebahagiaan. Klise ya. Saya melihat orang-orang Jepang yang bekerja habis-habisan, tapi nampak tidak bahagia. Bekerja terus dan pulang hanya untuk istirahat. Menimbun harta. Lalu untuk apa?



Ini banget!




Hidup di Jepang konon identik dengan mahal dan Indonesia murah? Yakin? Pada kenyataannya, secangkir kopi starbucks di Indonesia harganya sama dengan di Jepang. Saat tahun 2015, iphone 6s berharga sekitar 60.000 yen, sedangkan samsung S6 kurang lebih sama. Lucunya, di Indonesia harga iphone berkali lipat. Tapi tidak sedikit yang berusaha memiliki iphone.

Saya semakin merasakan bahwa (maaf ya) orang Indonesia banyak meletakkan gengsi dan harga diri pada hal yang tidak penting seperti materi. Sadly to say, konon katanya ya memang begitulah masyarakat di negara berkembang. Di usia saya yang sudah 30 tahun ini syukurnya saya sudah mengalami beberapa pengalaman. Dari sederhana (bukan kere loh..karena saya ga merasa kere..hihi), berubah menjadi brand minded, sampai sekarang saya akhirnya menemukan kembali diri saya. Seluruh pengalaman ini membuat saya datang pada satu kesimpulan. Harta hanya alat. Dan ia harus tetap berfungsi sebagai alat. Bukan sebagai tujuan. So...less is more.

Jangan salah, saya masih tetap bercita-cita sebagai orang kaya. Kenapa? Agar saya dapat manjadi manusia yang lebih bermanfaat daripada diri saya saat ini. Karena ketika kaya, kita dapat berbuat lebih banyak. Memberi lebih banyak manfaat. Tapi kali ini saya bertekad untuk tetap menjadi sederhana dan tidak membiarkan harta melenakan saya kembali. Mudah-mudahan Allah mewujudkan impian saya yang ini juga ya... aamiin


Time is money

Kalimat klasik ini baru akhirnya saya rasakan secara nyata setelah saya tinggal di Jepang. Karena ketika di Jepang saya bekerja dibayar perjam, saya akhirnya berkesempatan merasakan juga bahwa waktu yang saya punya ya berarti uang. Untuk setiap menit berlebih yang saya habiskan bekerja, saya mendapatkan hasil (materi).

*untuk setiap menit yang kita lebihkan untuk bekerja aja kita dapat materi, nah untuk Tuhan yang udah ngasih pakai tubuh kita mampu bayar apa?*


Tujuan hidup dan makna dari ibadah


Ini hikmah terbesar yang saya dapat dari kehidupan saya di Jepang!

Ketika saya mempertahankan hijab saya, menolak pekerjaan yang meminta saya melepas hijab (padahal hijab saya sih masih biasa-biasa aja, masih sok modis jauh dari syar’i), tidak bertemu non mahram tanpa hijab (walau pernah kecolongan sih 2x...pertama pas buang sampah subuh-subuh, saya kira kalau di Jepang mah ga ada orang yang bakal berkeliaran pas subuh buta, jadi keluar ga pake kerudung, eh taunya ada orang nyelonong... yang kedua pas nginep di rumah temen, katanya ayahnya suka pergi pagi, eh pas bangun tidur beliau nongolin kepala ke kamar..). Saat itu saya mulai bertanya pada diri saya sendiri. Kenapa sih saya segitunya. Padahal pas di Indonesia saya ga segitunya, di sini juga ga akan ada orang yang mencecar saya kalau saya lepas hijab seperti yang akan dilakukan oleh orang-orang di Indonesia. Yang ada orang-orang di laundry sering menyuruh saya memakai baju lengan pendek karena mereka kasian pada saya dan takut saya pingsan. Bukan karena mereka tidak suka saya berhijab, tapi karena saat itu sedang musim panas, dan mereka yang tidak berhijab saja sampai bermandikan keringat. Sementara saya berpakaian tertutup dan berpuasa pula.

Maka ketika saya shalat, puasa, sekuat tenaga mempertahankan hijab saya, menjaga makanan dan minuman dari hal-hal yang diharamkan Allah, saya mulai bertanya kepada diri saya sendiri, kenapa saya lakukan itu? Untuk apa semua itu kenapa saya melakukan hal tersebut? Sementara saya selama di Indonesia juga slengean. Memang ga sampai knock down hijab sih, tapi ga setaat itu juga.

Siapa yang akan memarahi saya kalau saya makan babi, minum wine, tidak shalat, tidak puasa, membuka aurat? Tidak ada. Karena di sekitar saya minum wine, makan babi, adalah hal yang lumrah. Tidak berhijab malah membuat saya menjadi lebih normal di mata mereka (bukan berarti berhijab itu abnormal, tapi ya...sedikit mencolok mata aja sih..hihi). Semua (sesuai dengan esensinya) adalah keputusan saya sendiri dan tanggung jawab saya sendiri.

Akhirnya saya dapat pembelajaran langsung mengenai hubungan saya dengan Allah dan diberi kesempatan untuk memutuskan sendiri apakah saya merasa butuh Allah atau Allah yang butuh saya. Dengan tinggal di Jepang ternyata saya diberikan kesempatan memurnikan niat ibadah saya.





Terlepas dari kelakuan saya yang sering mengeluh dan kurang bersyukur selama tinggal di Jepang, ternyata banyak hikmah yang dapat saya petik. Yes, I am lucky to have that chance. Alhamdulillah.


Maybe lucky...maybe lucky...I dare say I'm lucky...








Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

2 Purnama Setelah Kembali ke Tanah Air

Purnama ke-2 setelah saya kembali ke tanah air. Tidak mudah memang hidup dengan kondisi tanah air yang seperti ini, saya jadinya malah semakin stres. Sulit rasanya untuk tetap positif dengan cekokan berita negatif di media massa. Dalam seminggu pertama saya di rumah, rasanya saya berhasil dicuci otak untuk menjadi menjadi super duper pesimis.

Kembali ke Indonesia...panas, semrawut, sumpek, kotor, penuh debu, becek, macet, kebutuhan mahal, liat lowongan kerja gajinya kecil banget,  kejahatan dimana-mana. Lha kok ga ada bagus-bagusnya ya. Rasanya pengen angkat lagi aja koper yang belum dibongkar itu dan kembali ke Jepang. Padahal sih, pas di Jepang juga saya sering merasa ga betah. Sepi. Bosan. Tapi saat ini rasanya seperti mimpi kalau saya pernah tinggal di negara yang serba bersih, teratur dan aman.

Waktu di Jepang pengen pulang (walau dalam hati aja sih...) eh udah di Indonesia pengen balik lagi ke Jepang. Apaaaa sih maumu, Tiara. Tiba-tiba saya sadar. Ternyata saya kurang bersyukur. Saya jadi merasa sangat sedih. Entah sejak kapan saya berubah menjadi pesimistis dan kurang bersyukur seperti itu.

Ada teman menulis di wall fb saya "enak ya jadi kamu". Loh... hahaha. Iya, kehidupan kita yang terasa berat ini tidak jarang merupakan hidup impian orang lain. Iyalah enak, gimana ga enak kalau bisa tinggal di Jepang, jalan-jalan ke Korea, ke Malaysia, makan-makan enak, dandan cantik, pake baju yang modis dsb. Itu kan yang mungkin orang lain lihat di kehidupan saya. Sementara saya jujur aja kadang suka iri liat teman yang walau tinggal di rumah kontrakan yang mungil dan sederhana, tapi punya keluarga yang hangat. Suami yang pekerja keras dan anak yang lucu. 

Saya memang harus lebih banyak bersyukur dan menambal erat-erat perahu saya, biar ga bocor dan kemasukan pikiran-pikiran negatif dan pesimis. Tapi ini bukan pekerjaan sepele, karena saya harus mengeluarkan pikiran negatif dan pesimis yang terlanjur masuk ke dalam pikiran saya.

Hidup adalah perjuangan kan ya. I know it so well (cuma kadang suka khilaf...hehehe). だから、頑張りましょうか!



Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...