Tampilkan postingan dengan label ear candle. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ear candle. Tampilkan semua postingan

In ear candle

Ear Candle

Terapi ear candle atau Terapi Lilin adalah terapi yang menggunakan lilin khusus yang dibakar. Ear therapy Candle sebenarnya sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu. Konon terapi ini berasal dari suku Indian kuno di Amerika Selatan. Awalnya menggunakan kulit jagung yang dicelupkan ke dalam sarang lebah. Sekarang ear therapy menggunakan lilin khusus yang terbuat dari kain linen berkualitas yang dilapisi sarang tawon. Dan bagian tengahnya berlubang.

Cara menggunakannya adalah dengan menaruh lilin di wadah semacam tatakan gelas yang telah dilubangi . sehingga lilin dapat menembusnya. Taruh ujung lilin di liang telinga, sementara ujung yang satu dibakar. Setelah sekitar 15 menit, lilin dimatikan. Kemudian diulangi untuk telinga yang satu lagi. Setelah itu kedua ujung lilin dipotong dan akan terlihat kotoran. Itulah kotoran dari telinga yang tidak terjangkau oleh pembersih telinga. Bagaimana bisa? asap atau uap dari lilinlah yang menarik semua kotoran tersebut. Terapi ear candle ini sebaiknya dilakukan oleh ahlinya. salah-salah, lilin yang terbakar bisa mengenai telinga.

Read More

Share Tweet Pin It +1

1 Comments

In ear candle

Pengalaman pertama ber-ear candle sendiri


Hihi... aku memang suka nyobain segalanya sendirian. Less risk. Karena aku yang bertanggung jawab atas perbuatanku sendiri. Kalo ke salon, terus gagal, kan entar mencak2 marah2 ke pihak salon. Makanya meningan ama sendiri deh. Hehe. Luluran sendiri, make up-an sendiri, creambath-an sendiri, maskeran sendiri juga. Pernah aku ke salon gitu, yang mijitnya kekerasan. Yang ada, pulang-pulang pegelnya ilang, badanku jadi sakit2. Hihi... Kalo soal creambath, dulu ada salon langgananku, deket kampus. Setiap potong, ataupun Cream bath, aku selalu ke salon itu. Alesannya karena: 1. Murah 2. Si mbak-nya pinter motong rambut aku yang bergelombang, hasilnya gak jadi aneh, walaupun udah dicuci di rumah. 3. Mijitnya enak. Tapi lama gak ngampus, begitu ke kampus, eeh, salonnya udah berubah jadi warung makan. BT deh. Sampai saat itu, aku belum menemukan lagi salon yang cocok.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...