In

[Personal] その夢…

Postingan kali ini berjudul "Sono yume..." yang dalam bahasa Indonesia berarti "Mimpi itu.." atau bisa juga diterjemahkan sebagai "Impian itu...". Saya mungkin termasuk orang yang jarang bermimpi...hmm, atau justru terlalu bermimpi sehingga impian itu betul-betul menjadi sebuah mimpi saja? Entahlah.

Impian yang saya maksud di sini adalah impian yang termasuk kategori cita-cita. Untuk hal yang satu ini saya memang jarang memimpikannya. Menurut ibu saya, sejak kecil saya memang tidak pernah mengatakan cita-cita saya apa. Saya masih ingat, sebetulnya saya seperti tokoh Totto chan di Madogawa no Totto chan, yang ingin menjadi kondektur karena kondektur bisa punya banyak tiket. Kemudian ketika

Ketika kecil, papa melihat telapak kaki saya berlekuk, dan berkata bahwa yang telapak kakinya berlekuk itu kuat jalan jauh (dan memang terbukti sih..hehe) sehingga pantas menjadi tentara. Lalu saya bercita-cita menjadi ABRI. Di waktu yang lain, mama berkata bahwa saya lincah, photogenic, jago bergaya dan berlenggak lenggok, sehingga bisa menjadi pragawati atau model. Lalu sayapun bercita-cita menjadi model. Sayangnya semua mimpi itu kandas ketika tinggi saya mentok di 152 cm. Hahahaha.

Kemudian, thanks to anime Magic Girls, kisah tentang sepasang anak kembar yang bisa berpindah tempat dengan mengaitkan kelingking mereka, saya ingin menjadi ilmuan. Gambaran tentang melakukan percobaan di lab memenuhi pikiran saya. Hal itu terpenuhi setidaknya sampai saya bersekolah di SMF. Sayangnya impian itu mati dengan sendirinya ketika saya masuk kuliah jurusan Sastra. Hahahaha.

Saya tidak tau pastinya kenapa, tapi orang tua saya tidak dengan spesifik mengarahkan saya kepada suatu cita-cita sejak saya kecil. Orang tua saya membiarkan saya berkembang secara alami. Dengan bakat saya sendiri (walau saya sendiri di usia seperti ini terkadang bingung dengan bakat saya sendiri..hehehe) dan kecerdasan saya sendiri. Bisa dikatakan, orang tua saya termasuk orang tua yang demokratis. Membiarkan anaknya bertumbuh kembang tanpa diembel-embeli ambisi pribadi orang tuanya dan mensupport keinginan anak semampu orang tua. Satu-satunya hal yang "dipaksakan" oleh mama kepada saya adalah masuk SMF.

My life has been a series of unpredictable events (bukan lemony snicket loh ya..). And I'm enjoying it. Saya tidak mengatakan bahwa hal ini adalah hal yang baik, tidak. Memang yang terbaik adalah ketika semua sudah terprogram. Impian yang terprogram mempermudah kita untuk meraihnya. Mari kita ambil contoh teman saya. Dia masuk jurusan sastra Jepang karena memang sudah berniat sejak SMA nya. Sehingga di semester 1 dia sudah meraih IPK yang tinggi, sehingga memudahkan jalannya untuk meraih beasiswa. Akhirnya diapun dengan mudah wara-wiri ke Jepang gratis dengan bantuan beasiswa. Lalu saya? Secara tidak terduga, saya yang lulusan sekolah menengah farmasi justru diterima kuliah di jurusan sastra. Bayangkan betapa bingungnya saya dengan mata kuliah sosiologi, sejarah, dan sebagainya yang sama sekali tidak mengenal rumus dan hitungan. Tapi tokh dengan perhitungan, saya berhasil lulus tepat waktu...4 tahun. Dengan ipk yang tidak memalukan pula.

Lalu...kembali pada tema tulisan kali ini...apakah saya sudah betul-betul menemukan impian saya?Hmm...setelah lulus s2 seperti inipun...sepertinya saya belum menemukan suatu hal yang sungguh-sungguh ingin saya raih. Terdengar agak menyedihkan ya... Saya bukannya menyalahkan stereotype orang Indonesia yang nrimo. Tapi...saya kok merasa memang kebanyakan seperti itu.

Ketika kita punya sebuah keinginan, kemudian ternyata keinginan tersebut karena satu dan lain hal tidak dapat terlaksana, kita berlindung di balik takdir Tuhan dengan berkata bahwa bukan rejekinya lah dsb. Hal inilah yang kemudian membuat orang Indonesia dicap pemalas oleh beberapa bangsa lain. Kurang daya juangnya. Hal ini menjadi terasa mengenaskan menurut saya. Bukankah justru dengan memiliki Tuhan seharusnya kita lebih percaya diri untuk bermimpi dengan tinggi? Karena tidak ada yang tidak bisa Tuhan lakukan. Namun kenapa yang sering terjadi justru sebaliknya. Bersembunyi di balik takdir Tuhan atas kurangnya usaha kita.

Saya mungkin sedikit terlambat menyadari hal tersebut. Namun saya rasa, selama kita masih diberi nafas oleh Tuhan, tidak ada kata terlambat. じゃ、今から考えています。

Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...