In Random

My thoughts on "Waktu aku sama Mika"...bukan sebuah review

Sebenarnya, tidak biasanya saya menuangkan pikiran saya mengenai sebuah buku. Sejauh ini saya membuat review mengenai kosmetik, makanan, daerah wisata ataupun perjalanan alias FR (field report). Oleh karena itu saya melabeli tulisan ini sebagai bukan sebuah review.

Ini bukan buku pertama yang saya baca, tentunya. Mungkin sudah ratusan buku yang pernah saya baca (it's true...saya dulu anak yang kutu buku, sebelum mengenal internet. Tapi kehidupan berubah ketika mulai mengenal internet, dan saya mulai menjadi seorang net freak.). Tapi lalu mengapa saya memilih buku ini untuk saya ulas? Jawabannya sederhana. Karena saya sebenarnya agak bingung membaca buku ini. Tapi tokh buku ini bahkan sudah mencapai cetakan ke-10 di September 2012. So it supposed to be good.

Buku yang baru saja saya baca ini berjudul "Waktu aku sama Mika" yang ditulis oleh seorang gadis bernama Indi. Cerita tentang bagaimana saya mengenal nama seorang Indi bisa dibaca di tulisan saya yang ini. Pada acara launch "Guruku berbulu dan berekor" saya mendapatkan satu eksemplar buku  "Guruku berbulu dan berekor" tersebut secara cuma-cuma (I'll do the review later). Karena buku tersebut merupakan kumpulan cerita dari beberapa penulis, saya membaca kisah dalam buku tersebut secara acak. Dan akhirnya memutuskan bahwa saya ingin mengetahui juga buku-buku Indi sebelumnya. Akhirnya dimulailah pengenalan saya pada dua karya Indi sebelumnya.

Seperti yang saya ungkap sebelumnya, saya sebenarnya sedikit bingung membaca Waktu aku sama Mika. Buku ini terdiri dari potongan-potongan kenangan yang ditulis dengan tidak seolah menceritakan masa lalu. (Iya, potongan-potongan...makanya saya rasa sebenarnya buku ini lebih cocok diberi judul Little snippets..) Ditulis dengan waktu dan tanggal berurutan, tapi berisi kejadian lampau yang tidak dalam bentuk lampau. (maap yeee pembaca..kalau bingung dengan kalimat saya di atas). Di buku ini juga sosok Mika diceritakan begitu sempurna. Tapi sama sekali tidak mengenalkan siapa itu Mika. Selain itu juga ada sedikit typo. In case you don't know, typo is...missspelled or something like that.

Selain isinya yang menyentuh (kalau pembaca mampu memposisikan dirinya sebagai penulis), dari buku ini juga didapat sedikit informasi mengenai scoliosis maupun ODHA, yang menurut saya menjadi salah satu kelebihan buku ini.

Sebelum membaca buku ini, saya sengaja sama sekali tidak membaca review apapun tentang buku ini. Baru setelah saya selesai membacanya, dan tahu pasti review apa yang akan saya berikan, saya membaca review-review orang lain. Ternyata memang bukan saya saja yang bingung dengan buku ini. Kebanyakan orang memang bingung dengan buku ini. Ada review yang lunak macam ini, review dewasa seperti ini, review agak pedes kayak gini, sampai komentar sadis macam ini.

All I can say is...the more you know..the less you judge. Ada yang mereview mengenai plot dsb. Buku ini memang tidak memiliki plot. Buku ini bukanlah novel atau karangan fiksi yang dikemas dalam format diary macam The Princess's diaries. Tapi Ini adalah diary yang diterbitkan. Karena pada dasarnya ia adalah diary...maka kata-katanya begitu jujur, sederhana, dan menyentuh.

Buku ini awalnya bukan karangan fiksi yang dimaksudkan untuk khalayak, maka ia kekurangan detil. Saya rasa, kisah Indi dan Mika ini bisa dinovelkan. Dibuat menjadi novel, lengkap dengan pendeskripsian sosok Mika. Jika itu dibuat...oleh siapapun...bahkan mungkin oleh Indi sendiri, saya rasa tidak akan ada lagi orang yang berani berkomentar buruk mengenai buku ini.





Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Featured Post

Alam

Saya adalah seorang petualang. Dengan tubuh dan kaki yang kecil ini selalu mencoba menjelajahi setiap pelosok dunia.  Keindahan a...